MARI KITA BERSAMA MASUK DALAM KEHENINGAN BERSAMA YESUS


          Dalam pengalaman sehari-hari, kita tak jarang menjumpai pribadi-pribadi yang kerap tidak setia entah pada tugas, maupun pada panggilan hidup yang ia jalani. Dalam waktu sekejap saja, orang bisa berubah-ubah pikiran dan sikapnya. Pengalaman orang-orang seperti ini sudah ada sejak zaman Yesus. Pengalaman orang-orang Yahudi dalam Injil pada hari ini memperlihatkan kecenderungan dasariah manusia untuk tidak setia. Hal ini tampak secara gamblang ketika orang-orang Yahudi bersuara keras memuji Yesus di Gerbang Yerusalem ketika Yesus masuk ke Yerusalem. Mereka menyambut kehadiran Yesus dengan sorakan penuh kegembiraan sambil melambaikan tangan. Namun tidak lama berselang, orang-orang Yahudi itu tidak membela Yesus ketika Dia dihadapkan ke Pilatus untuk diadili. Bahkan besar kemungkinan bahwa orang-orang yang tadinya bersukacita oleh karena kedatangan Kristus malah ikut menyorakan Yesus untuk disalibkan. Mereka lebih memilih kematian, dengan meneriakkan pembebasan Barabas seorang pembunuh dan pemberontak, daripada Sang Kehidupan

           Pengalaman orang-orang Yahudi yang tidak setia kepada Allah juga merupakan gambaran perjalanan iman kita pada Allah yang dapat kita lihat dari buah-buahnya. Ada kalanya kita merasa menggebu-gebu menjalankan kehendak Allah, namun ada kalanya juga kita kehilagan daya Roh Kudus untuk berbuat baik sehingga jatuh dalam hal-hal yang bertentangan dengan Kehendak-Nya. Dinamika seperti itulah yang membuat perjalanan iman manusia menjadi dinamis dalam hal penghayatannya.

Marilah kita bersama masuk dalam keheningan bersama Yesus yang telah rela menderita demi kita orang yang berdosa ini, selamat memasuki Tri hari suci bersama Yesus yang disalibkan, wafat, namun akan bangkit mulia untuk kita semua.

(Sr.M.antoni FSGM ).