Relokasi RS Antonio Baturaja


Tujuhpuluh tahun yang silam, 21 September 1948, empat suster misionaris mulai berkarya di Baturaja, Sumatera Selatan. Mereka melayani dan merawat orang sakit di RS Umum, Baturaja.

Para pendahulu ini datang memenuhi permintaan Pastor Borst SCJ yang saat itu membutuhkan tenaga perawat.

Baru pada tanggal 10 November 1952, Kongregasi FSGM memiliki karya kesehatan di RS sendiri, yakni RS St. Antonio yang terletak di Air Gading. Masyarakat luas mengenalnya dengan sebutan ‘Rumah Sakit Kalam’. Para suster pendahulu ini telah meletakkan dasar batu rohani yang kokoh yakni: iman, harap, dan kasih.

Kerendahan Hati

Seiring perjalanan waktu, orang yang dilayani semakin banyak. Berarti semakin kuat tuntutan pelayanan. Lagipula kondisi rumah sakit mengalami banyak polusi dan sulitnya akses transportasi, membuat rumah sakit ini harus direlokasi.

Dengan kondisi yang seperti itu, 23 tahun yang lalu, Sr. M. Magdalena membeli tanah untuk rencana relokasi dan bersama seluruh suster sedikit-demi sedikit mengumpulkan uang untuk membangun rumah sakit yang baru.

Berkat dukungan dan dorongan dari banyak pihak, berkonsultasi dan dengan bantuan instansi-instansi terkait, semakin menguatkan keberanian dan keyakinan para suster FSGM akan rahmat Allah untuk memulai rekolasi. Diawali dengan proses perizinan ke Generalat pada tahun 2013. Dan, Sr. M. Julia Juliarti telah mengawalinya.

Proses pembangunan rumah sakit ini melewati jalan yang berbatu-batu, doa yang tak kunjung henti, perjuangan yang gigih serta air mata, akhirnya pada hari Kamis, 06 Desember 2018, RS St. Antonio Baturaja diresmikan oleh Bupati Ogan Komering Ulu (OKU), H. Kuryana Azis. Tiga setengah tahun yang lalu, 04 Juni 2015, Bupati ini juga yang meletakkan batu pertama.

Kedatangan Bupati dan rombongan disambut oleh drumband dari SD Fransiskus Baturaja. Acara peresmian RS Antonio yang baru, ditandai dengan pemukulan gong dan penandatangan prasasti oleh Bupati Kuryana Azis dan Uskup Agung Palembang Mgr. Al. Sudarso SCJ. Selain itu, pelepasan tujuh ekor burung merpati dan pengguntingan pita. Dilanjutkan dengan peninjauan lokasi gedung.

Sebelumnya, diadakan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Al. Sudarso SCJ didampingi Uskup Tanjungkarang Mgr. Yohanes Harun Yuwono dan Uskup Pangkalpinang Mgr. Sunarko OFM.

Dalam homilinya Uskup Sunarko OFM mengajak para suster bersyukur atas para pendahulu yang telah meletakkan dasar iman yang kokoh. “Semoga semangat para pendahulu selalu menjadi inspirasi kalian,” harapnya. Kedepan, bila suatu saat rumah sakit ini ramai dikunjungi pasien, janganlah tinggi hati. “Jangan lupakan Tuhan. Tetaplah rendah hati. Karena kerendahan hati adalah adalah satu-satunya keutamaan yang menopang keutamaan-keutamaan yang lain,” pungkasnya lagi.

Hadir dalam acara ini Unsur Muspida Kabupaten OKU, Kepala Dinas Pemkab OKU, Kepala BUMN/BUMD, para romo dari keuskupan Tanjungkarang, Palembang, dan Papua, para suster CB, Charitas, dan FSGM dari berbagai komunitas. Hadir pula pimpinan proyek sekaligus konsultan bangunan, Ir. Michael Sofyan, Ketua Panitia penggalangan dana A. Budi Hidayat, dan para donatur.

Hampir Padam

Proses pembangunan rumah sakit ini berlangsung lebih lama dari yang ditargetkan, dari 1,5 tahun menjadi 3,5 tahun. Penyebabnya, struktur tanah yang tidak rata sehingga membutuhkan lebih banyak penguatan struktur bangunan, tenaga, dan biaya yang luar biasa. Bahkan, sampai hari ini pun finishing masih dilakukan di beberapa area.

Dalam perjalanan pembangunan semakin membutuhkan dana yang luar biasa. Para suster FSGM sempat mengalami putus asa. Akan selesaikah pembangunan rumah sakit ini?

Namun, Tuhan tetap menjaga dan tak membiarkan sumbu yang berkedip-kedip itu padam karena persediaan minyak kami yang hampir habis. “Tuhan mengutus Bapak Budi Hidayat, Bapak Ig. Jonan, dan Ibu Eli untuk bersama-sama menjaga lampu kami yang hampir padam itu,” ujar Sr. M. Aquina dalam kata sambutannya dengan menahan rasa haru.

Ini semua merupakan pengalaman iman yang menakjubkan bagi kami. Hingga akhirnya jadilah bangunan yang seperti kita lihat sekarang; berkapasitas 140 tempat tidur (lebih dari dua kali lipat yang lama), dengan fasilitas yang lebih lengkap, dan dalam proses dari RS tipe D menjadi RS tipe C.

Setelah diresmikan, akan segera memulai operasional, yang akan dibuka dengan pengobatan gratis di rumah sakit ini.

Berbagi Berkat

Bangunan RS ini dibangun atas dasar iman, pengharapan akan rahmat Allah, dan kasih dalam pelayanan. Dengan tiang-tiang semangat, kerjasama semua pihak, profesionalitas para konsultan dan pelaksana, ketekunan para tukang, kepedulian, kemurahan hati para panitia dan donatur, kesetiaan para suster memohon berkat Allah, serta beratapkan aliran kasih dan berkat Ilahi, dan pada akhirnya berdirilah gedung rumah sakit yang baru ini dengan luas, kokoh, dan kuat.

“Saya mohon kepada para suster dan seluruh karyawan RS St. Antonio untuk melanjutkan landasan bangunan ini dengan memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik, sesuai motto: “Menjadi tanda kehadiran Allah yang berbelaskasih,” harap Sr. M. Aquina.

Sejak dahulu RS St. Antonio mengutamakan pertolongan dengan tidak menerima uang muka, tetap menjadi prioritas.  Setiap pasien, keluarga pasien, mau pun pelanggan lain yang datang adalah tamu Ilahi, di mana Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk

melayani dengan sepenuh hati dan berbagi berkat. Sehingga impian untuk memiliki pelayanan kesehatan yang bermutu menjadi nyata. ***

 Fransiska FSGM