Talitha Kum Indonesia, Pringsewu-Lampung


Counter, Woman, Trafficking Commision (CWCT) bekerjasama dengan Ikatan Biarawati Seluruh Indonesia (IBSI) mengadakan sarasehan memperkenalkan Talitha Kum Indonesia, di Gedung Griya Anselma, Pringsewu, Senin, 09 Desember 2019.

Mengenal Talitha Kum

Nama Talitha Kum adalah nama baru dari CWCT-IBSI. Acara perkenalan Talitha Kum dengan visi-misi dan nilai-nilai yang diperjuangkannya dibawakan oleh narasumber Sr. Chatarina RGS bersama Sr. Fransiska PMY.

Di dinding ruangan itu ada tempelan kertas-kertas yang ditulis tentang Talitha Kum. Talitha Kum adalah Komisi dari IBSI yang fokus pada issu perdagangan orang. Badan ini juga bagian dari jaringan Talitha Kum Internasional dan salah satu program UISG (Union Internasional Superior General).

Talitha Kum Indonesia memiliki misi bersama semua pihak yang berkehendak baik berkomitmen untuk mewujudkan dunia bebas perdagangan orang dengan melakukan:

  • Kampanye tentang bahaya perdagangan orang
  • Pemberdayaan religius dan masyarakat sebagai agen perubahan.
  • Pemulihan martabat korban perdagangan orang
  • Advokasi kebijakan publik.

Di kertas lain tertulis tentang program-program Talitha Kum dan nilai-nilai kerja yang dihayati yakni: kerjasama, pengorbanan, belas kasih, kegigihan, dan murah hati.

 

Keluar dari Zona Nyaman

Setelah ditayangkan slide tentang perdagangan orang. Sekitar lima belas menit para peserta diberi waktu untuk maju dan membaca tulisan-tulisan tentang Talitha Kum itu. Dua pertanyaan diajukan oleh Sr. Fransiska PMY, apa kesan tentang Talitha Kum dan gerakan hati yang muncul.

Banyak dari peserta yang merasa tersentuh dan ingin berjejaring dengan organisasi ini. Karena sebagian besar dari lingkungan sekitar dan masyarakat mereka terjadi tindak kekerasan khususnya terhadap anak-anak dan kaum perempuan.

Isu-isu yang mereka ungkapkan, direfleksikan, ditampung, dan diteguhkan oleh Sr. Chatarina RGS. Dengan tegas ia menyimpulkan, dalam kesetaraan gender, Talitha Kum menolak segala bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan.

            Seorang peserta lain, menyeringkan tetangga dekatnya, yang memiliki anak balita sudah memegang HP tiada henti. Lalu ibu itu meminta supaya orangtuanya lebih memerhatikan anaknya supaya tidak ‘dirusak’ oleh tawaran indah dan menarik dari hp android. Ini adalah salah satu bentuk tindak nyata yang harus dilakukan untuk merawat dan melindungi anak dan perempuan di lingkungan sekitar.

Dengan contoh-contoh yang sudah dipaparkan peserta, Sr. Chatarina menyatakan, bahwa kasus-kasus kekerasan akan banyak ditemukan di lingkungan sekitar kita.

Maka ia meminta supaya kita semua keluar dari zona nyaman, menuju ke tempat di mana anak-anak dan perempuan diperlakukan tindak kekerasan.

Berjejaring

            Acara sarasehan ini semakin menarik karena para peserta, yang 90 persen ini adalah kaum perempuan. Mereka tampak sangat antusias untuk dapat memberikan bantuan berupa pikiran, waktu, dan tenaga untuk memberantas perdagangan orang dan tindak kekerasan khususnya terhadap kaum lemah: perempuan dan anak.

Di akhir sarasehan ini Sr. Chatarina RGS mengatakan bahwa acara ini merupakan sarana untuk menyatukan visi dan misi. Tidak ada paksaan, yang ada hanyalah hati yang tulus untuk melakukan sesuatu yang baik dan benar.  Selain itu, ia mengajak agar semua menyatukan hati dan keberagaman demi tujuan bersama agar anak-anak dan perempuan mengalami sukacita. Indonesia adalah rumah kita bersama. “Mari kita menyatukan visi dan misi, saling bersinergi dan berjejaring,” tegas Sr. Chatarina RGS.

Acara ini dihadiri 55 peserta. Mereka adalah: para suster FSGM, HK, CB, LSM FAKTA, Damar, Komisi Keadilan Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau (KKP PMP), Jaringan Masyarakat Menolak Perdagangan Orang (JMMPO), Kelompok Wanita Tani (KWT), Serikat Perempuan Bandar Lampung (SPBL), dan WKRI.

***

 

  1. Fransiska FSGM