Natal Ekumenis Lampung Tanpa Ibadat


Perayaan Natal Oikoumene Provinsi Lampung Tahun 2019 yang diadakan di Gedung Haka Metta Sarana, Telukbetung, Bandarlampung, 09 Januari 2020, berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Kali ini dirayakan dengan tidak ada Ibadah.

 

Permintaan uskup

Tidak adanya Ibadah dalam Perayaan Natal Oikoumene tahun ini adalah salah satu permintaan Uskup Tanjungkarang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono kepada Panitia Natal. Permintaan lainnya adalah agar panitia Natal mengundang para sahabat lintas iman.

Dengan adanya dua permintaan itu, Uskup Harun ingin agar Perayaan Natal Oikoumene 2019 ini menjadi wahana atau sarana kegembiraan bersama Tuhan atas nama seluruh anak Bangsa Indonesia. Menurut Uskup, lagi pula Ibadah Natal sudah dilaksanakan di gereja masing-masing dengan sangat aman dan tenang berkat kerja keras para TNI/POLRI.

Oleh Panitia Natal Oikoumene yang tahun ini dikepalai oleh Gereja Katolik, permintaan Uskup itu dikabulkan. Sekitar dua bulan sebelumnya, dibentuklah panitia. Setelah diadakan rapat, panitia mulai bergerak sesuai dengan tugasnya masing-masing.

 

 Bukan satu darah

Sore itu sekitar seribu orang memenuhi gedung Haka Metta. Mereka adalah: Wakil Gubenur Lampung Chusnunia Chalim (Nunik), para tokoh lintas agama, budaya, pemuda, ormas, TNI dan POLRI. Selain itu, anak-anak Xaverius dan Fransiskus, serta Paduan Suara Giofani turut memeriahkan acara Natal Oikoumene ini.

Suasana Natal dan Tahun Baru masih kental terasa. Setiap orang yang berjumpa saling memberi salam, seperti sudah mengenal lama. Suasana persaudaraan tercipta secara alami, tak ada perbedaan agama, suku, budaya, mau pun golongan. Mereka datang dengan tujuan yang sama yakni: bersyukur, bergembira bersama  dan berbagi berkat.

Suasana persaudaraan ini sesuai dengan tema yang diusung dalam acara ini, “Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang.” Tema ini juga merupakan Tema Natal nasional tahun 2019, yang diusulkan oleh seorang bapak dan ibu pendeta PGI yang kemudian disetujui oleh para Uskup dari KWI.

Menurut Uskup Harun Yuwono, tema yang indah ini hendak mengingatkan kepada semua orang Kristiani agar menjadi sahabat bagi semua orang. Yesus pernah mengatakan, “Aku tidak lagi memanggil kamu hamba, tetapi sahabat.” Yesus saja memanggil kita, sahabat, maka sudah sepantasnya kita memanggil semua orang sebagai sahabat. Tuhan tidak membeda-bedakan orang. Bila kita memusuhi orang lain, berarti kita memusuhi  Allah sendiri. Dan kita sedang membangun kutuk atas diri kita sendiri

Sahabat itu kedudukannya sederajat, semartabat, sama luhur, kemanusiaannnya sama mulia. Sahabat itu bukan darah dan daging kita, tetapi di situlah justru letak keluhuran kemanusiaan kita, bila kita mengasihinya secara total dan tanpa pilih kasih.

Uskup Harun juga mengungkapkan, bila dari komunitas iman lain berduka, kami pun juga sehati sejiwa berduka bersama Anda kalian. Maka mari kita jauhkan dan hentikan sumpah serapah, caci maki, dan fitnah yang sering terjadi di media sosial dari kelompok satu ke kelompok lain.

Saat acara ini berlangsung, di sudut kanan seorang laki-laki berkacamata, Salvator Juen Junaedi, melukis suasana yang terjadi di gedung itu. Usai acara lukisannya itu diperlihatkan kepada para hadirin, lalu diserahkan ke Uskup Harun Yuwono. ***

M. Fransiska FSGM