CICIP


Catatan Antonius Eddy Kristiyanto OFM

Barusan saya menyelesaikan pembacaan atas naskah terjemahan dari Bahasa Jerman (ke Indonesia) yang dikerjakan oleh Sr. M. Makaria FSGM. Sumber utama karya ini Buku-Buku Berita Tahunan dari Pusat Kongregasi Suster Fransiskan Santo Georgius Martir Thuine. Kutipan dari buku-buku tersebut meliputi angka tahun 1931-1934, dan 1940.

Di dalam catatan berikut ini, saya bermaksud menghidangkan kepada para pembaca cicipan serba sedikit dari karya adi-luhung. Sr. M. Makaria FSGM telah berhasil menyajikan kepada kita semua sekian banyak butir berlian dari perihidup para suster FSGM yang terekam dalam tahun-tahun tersebut.

Dengan sengaja sajian ini berupa cicip, sebab secara kuantitatif ini hanya “saimit”, sekelumit saja. Intensi saya adalah semoga semua Saudara tidak sabar untuk menantikan dan membaca sendiri karya terjemahan apik dan bernilai tersebut. Anggaplah cicip ini adalah sebentuk endorsement untuk karya berjudul Rekan-Rekan Muder M. Anselma.

Dari Buahnya

Guru dan Tuhan Kehidupan kita berkata, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik ……” (Mat. 7:16-17). Menerapkan kata-kata suci ini dalam perihidup para suster FSGM, yakni para rekan Muder M. Anselma Bopp, kita akan mengamini bagaimana model persekutuan religius FSGM yang perdana.

Selain itu, kita dapat membayangkan bagaimana cara formasi religius yang mereka alami sehingga menghasilkan pribadi-pribadi yang beriman sangat besar, berkarakter dan beridentitas serba jelas (tidak abu-abu) di tengah situasi awal yang tidak serba pasti, kesulitan ekonomi dan wabah penyakit, tekanan politik (Kulturkampf), dan sebagainya.

Lalu, rahmat ilahi berupa kekuatan batin dalam kontemplasi macam apa yang mereka upayakan dan timba dalam aktivitas sehari-hari dan pelayanan yang mengesankan tidak pernah lelah, tidak memberi tempat pada kata “menyerah”, menjunjung setinggi mungkin kesiapsediaan dan ketaatan dalam kemiskinan tak-bertepi. Dua buah lain yang terpampang jelas adalah sikap batin yang penuh sukacita (gembira hati) atau ringan karena sudah berprofesi religius serta keikhlasan (ketulusan hati) yang dapat diidentikkan dengan kemurnian hati. Tanpa pamrih. Semua diserahkan dalam pengabdian kepada Tuhan dengan pelayanan.

Kita yang membaca guratan pena abad lalu itu masih dapat merasakan lembutnya hati dari pendahulu kita berikut keteguhan hati yang sulit dicari padanannya. Benarlah kata-kata kitab suci yang disebutkan di atas.

 

….. Sampai Sr. M. Maria

Sejumlah nama diabadikan dalam karya terjemahan bertajuk Rekan-Rekan Mdr. M. Anselma tersebut. Nama mereka antara lain Sr. M. Marianne, Sr. M. Crescentia, Sr. M. Yohanna, Sr. M. Susanna, Sr. M. Mauritia, Sr. M. Benarda, Sr. M. Bernardine, Sr. M. Leonarda, Sr. M. Fransiska, Sr. M. Josepha, Sr. M. Ludowika, Sr. M. Elisabet, Sr. M. Juliana, Sr. M. Augustina, Sr. M. Honoria, Sr. M. Bonaventura, Sr. M. Lucia, Sr. M. Antonia, Sr. M. Maria.

Dari antara nama-nama tersebut, empat suster menempati lembar halaman yang leluasa, yakni Yohanna, Leonarda, Elisabet, dan Bonaventura. Sedangnya, yang cupet adalah Mauritia, Benarda, dan Maria. Poin terpenting bukan – leluasa – tidaknya, melainkan nilai keunikan dan keberlianan setiap pribadi yang ditampilkan serta dicatat.

Bagaimana komentar Saudara sendiri terhadap ungkapan-ungkapan tulus berikut ini, yang seakan-akan menyihir, menyebabkan terkesima, serta membuat terdiam seribu bahasa ini?

  • “Saya harus berjuang untuk selalu belajar sesuatu yang baru. Hanya dengan demikian saya dapat memberikan sesuatu yang baru kepada orang lain.” (Sr. M. Lucia).

 

  • Elisabet bersikap sederhana. Jika mengalami hal yang kurang mengenakkan, beliau berusaha menerima dan dengan ringan berucap: “Ini salam dari Tuhan terkasih.” Sr. Elisabet mau menerima semuanya dari tangan Tuhan.

 

  • “Yang mau berhasil dalam hidup ini harus berdiri teguh. Dan orang muda tidak bisa berdiri teguh, kalau tidak belajar berdisiplin diri. Maka kita harus berusaha, supaya anak-anak diri kita belajar disiplin diri.” (Sr. M. Elisabet).

 

  • “Makin kita menolong orang lain, makin terbuka dalam diri kita sumber-sumber yang masih terkunci, yang keberadaannya kita sendiri tidak menduga. Dari sumber-sumber itu mengalir terus kekuatan baru yang dapat kita gunakan dalam menyelesaikan pekerjaan kita sendiri dan membantu tugas orang lain.” (Sr. M. Fransiska).

 

  • “Berjalanlah bersama Yesus di jalan salib-Nya. Dia tahu bagaimana rasanya kalau merasa lelah dan hampir jatuh, tetapi harus jalan terus. Percayalah, Ia akan mengulurkan tangan-Nya dan menuntun, jika Anda mau mengikuti-Nya – lalu yang dirasakan berat sudah diatasi. Di jalan salib kita lebih dekat dengan-Nya daripada di tempat lain.” (Sr. M. Leonarda).

 

  • “Modal terbaik yang bisa dibawa seorang calon masuk biara adalah kehendak teguh untuk menjadi hamba Tuhan yang rendah hati dan taat.” (Muder Agung, Sr. M. Anselma).

 

  • “Kalau saya mau menjumlah hari-hari hidup membiara saya, di mana saya kurang berpuas hati, rasanya tidak mencapai selusin hari.” (Sr. Bonaventura).

 

Di sini saya sangat membatasi diri dan hanya memilih tujuh ungkapan hati yang tulus. Tujuh, konon, merupakan angka yang sempurna. Tetapi saya tidak percaya pada jumlah angka! Sebab nyatanya kesempurnaan dalam naskah yang diterjemahkan oleh Sr. M. Makaria FSGM lebih dari sekedar tujuh.

Oleh karena itu, saya mengakhiri catatan ini dengan mengutip paragraf terakhir tentang seorang novis, Sr. Maria, yang diizinkan untuk merawat banyak orang yang sakit karena wabah tifus. Suster novis ini berhasil, yang sakit dibuatnya menjadi sembuh. Akan tetapi, ia pulang dan “melunasi kerajinannya” dengan menyerahkan hidupnya.

“Belum genap dua tahun Suster Maria tinggal dalam biara, tetapi kenangan akan sikap ramah dan suka menolong tetap hidup. Dalam surat kematian tertulis. Suster Maria adalah seorang novis yang rajin. ketiadaan Suster Maria sangat disesalkan oleh Muder Agung.”

 

Jakarta, 10 Januari 2021.