PENYEMBUH BERBELARASA


Catatan A. Eddy Kristiyanto OFM

Bagian 1

“Menjadi Penyembuh yang Dijiwai oleh Belas Kasih Allah” mengandung minimal dua makna. Pertama, merupakan konfirmasi, penegasan bahwa kita tengah menjadi dan terus-menerus berupaya menjadi penyembuh yang dijiwai oleh belas kasih Allah. Kedua, itu menyiratkan harapan, impian agar kita menjadi demikian.

Berikut ini akan dibeberkan ulasan singat tentang seluk-beluh penyembuh  dengan latar depan peranan kita. Kemudian, Kristus Yesus sebagai model belas kasih Allah kepada manusia (yang berdosa, yang sakit, yang mati). Kita mulai dari Yesus Kristus.

 Yesus Kristus

Pokok pemikiran yang dijadikan fokus perhatian di sini dapat dirumuskan sebagai berikut. Yesus Kristus macam apakah yang kita tangkap dan mengerti sebagai model atau pola pelayanan? Pertanyaan ini perlu diungkap dan dijawab, mengingat ada macam-macam tafsiran tentang Yesus Kristus.

Gambaran kita tentang seorang pribadi (dalam hal ini tentang Yesus Kristus) sangat sering ditentukan oleh orang/kelompok orang yang membawa Yesus Kristus ke tempat kita. Orang Barat (dan alam pikiran orang Eropa) menyebarkan gambaran mereka tentang Yesus Kristus. Praktis Yesus Kristus sebagaimana digambarkan orang-orang Barat (misionaris) yang dibawa ke Asia, ke Indonesia.

Yesus (Kristus) bukan orang Eropa, melainkan orang kita, orang kita. Maka itu, sering dikatakan Yesus itu orang Asia, tetapi asing di benua Asia, terutama karena telah divermak menjadi Yesus Orang Eropa (bahkan dengan embel-embel) yang “menjajah” orang Asia, orang kecil.

Untuk dapat keluar dari wajah buram Yesus Kristus, beberapa teolog berikhtiar memberikan wajah Yesus dengan jiwa Asia dan akrab dengan situasi kontekstual Asia. Pada umumnya, wajah Yesus yang berciri corak Asia mau mengedepankan asas postcolonialism.

Karya-karya seperti R.W. Sugirtharajah, Asian Faces of Jesus (Orbis Book: Maryknoll, New York, 1993); Christian Sugden, Seeking the Asian Face of Jesus. The Practice of Theology of Christian Social Witness in Indonesia and India 1974-1994 (2002); Michael Amaladoss, The Asian Jesus (2005) …….. memperkenalkan Yesus Kristus dengan wajah Asia, dan bukan Yesus Eropa.

Ternyata pertanyaan tentang Yesus macam apa itu sangat dipengaruhi oleh jenis atau ragam spiritualitas yang dianut. Seorang Benediktin menafsirkan Yesus Kristus secara berbeda dari seorang Dominikan. Demikian juga tafsiran Fransiskan berbeda dengan tafsiran Jesuit, dan lain sebagainya. Pertanyaan ini tidak relevan bagi orang-orang yang tidak memperdulikan “spiritualitas”.

Gereja sangat mengharapkan agar tarekat-tarekat religius menyumbangkan kekhasannya dengan setia pada jati diri spiritualitas tarekat. Aneka ragam spiritualitas pastilah tidak merupakan keterpecahan, melainkan kekayaan anugerah kepada Gereja yang patut disyukuri.

Satu pesan yang didapat dari studi para Uskup dan teolog berikut dokumen Ecclesia in Asia (6 November 1999) kondisi tempat Yesus Kristus dapat ditemukan berkisar pada mellieu: Kondisi kemiskinan yang membelenggu dan membutakan, kebudayaan majemuk yang kaya yang belum sepenuhnya diolah, dan agama yang memberi pemerdekaan. Kiranya sumber-sumber itu mengedepankan tafsiran tentang Yesus Kristus asiatik.

Dengan mengedepankan sumber-sumber tersebut, saya hendak menyatakan bahwa model penyembuh yang dijiwai oleh belas kasih adalah seluruh Yesus Kristus. Sebab Fransiskus Assisi memandang Yesus Kristus bukan sebagian-sebagian. Pemahaman dan penghayatan Fransiskus Assisi akan Yesus Kristus meliputi seluruh Yesus Kristus. Dia inilah yang diikuti dan dijadikan model hidup Fransiskus Assisi.

Akan tetapi kita semestinya cermat dalam membedakan antara pandangan Fransiskus Asisi dan pandangan Fransiskan. Lagi pula, pandangan Fransiskan ada bermacam ragam, baik yang berhubungan dengan latar belakang, kurun waktu, dan lain sebagainya.

Hal ini perlu ditegaskan dan semoga jelas bagi kita sendiri, mengingat apa yang diharapkan dari kita adalah memberikan dari kekhasan kita. Inilah dinantikan oleh Gereja dalam dekret PC (Perfectae Caritas). Harapan ini kandas di tengah jalan, mana kala kita sendiri tidak memahami identitas kita; tidak menghayati kekhasan kita.

Oleh karena itu, dapatkah kita menarik garis lurus begini Manakah pandangan asasi, yang mesti ada, yang merangkum bahasan dulu, kini, dan masa depan? Sebab Alkitab mengatakan, “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8). Kepenuhan Yesus Kristus itulah yang ditangkap, dimengerti, dan dihayati para Fransiskan yang membaktikan hidup dalam persaudaraan, kedinaan, dan sukacita.

========================================================