FSGM, Formator Yang Dijiwai Belas Kasih Allah


By: Jumperdunan Manik, OFM Cap

Sebuah Kisah

Di sadur dari berbagai buku

Seorang suster muda, yang baru saja mengikrarkan Kaul Perdananya, tinggal di suatu komunitas karya (semoga bukan Komunitas Jiwika atau Sinaput). Dari sharing pengalaman yang didapatkan selama masa pendidikannya, dia membayangkan suatu komunitas yang sehati-sejiwa, yang damai tenteram tanpa konflik, dan saling dukung-mendukung, mengampuni serta mencintai satu sama lain. Singkatnya, sebuah komunitas yang bisa bekerja sama dan bersama-sama bekerja dalam hidup bersama.

Bayangannya, betapa bahagianya tinggal di suatu komunitas seperti jemaat perdana. Namun ketika memasuki bulan ketiga hidup dalam komunitas baru itu, dia menemukan adanya hal-hal yang terasa mengganjal dalam hidup komunitas. Di antara anggota komunitas, ada yang saling mendiamkan antara yang satu dengan yang lain, ada yang hanya sibuk dengan kemajuan-kemajuan zaman (tiktok, wa, fb, youtube, dll), ada yang kesukaannya membicarakan kejelekan orang lain, merasa diri paling benar sendiri, ada yang maunya menang sendiri, ada yang acuh tak acuh terhadap kebersamaan dalam komunitas, bahkan kadang-kadang terjadi pertentangan di antara pemimpin dan para suster lainnya.

Suster muda itu pun mengalami tegangan-tegangan dengan sesama anggota komunitasnya. Sebagai suster muda, kadang dia bingung harus mendengarkan pembicaraan suster yang mana, karena kadang pada waktu yang sama dua pekerjaan yang harus ia kerjakan yang disuruh oleh dua suster yang berbeda.

Menginjak bulan kelima hidup di komunitas itu, suster muda tersebut memberanikan diri untuk berbicara dengan ibu komunitas, dia menyatakan segala keresahan, kegalauan, dan keprihatinannya, akan cara hidup di komunitas itu. Singkatnya, suster muda itu menceritakan bahwa apa yang dia pelajari pada masa novisiat dengan yang dia lihat di komunitas itu sangatlah berbeda dan bertentangan. Satu-dua kali suster muda itu bercerita, keadaan belum berubah secara signifikan. Hingga suatu kesempatan makan malam, suster muda itu dengan berlinang air mata, menyatakan seluruh isi hatinya dan berencana akan meninggalkan komunitas itu, karena baginya cara hidup itu sangatlah menyiksa batin dan imannya. Tanpa dibayangkan oleh siapa pun, malam itu juga Roh Tuhan bekerja, suasana berbeda pun terjadi. Terciptalah keheningan yang sangat hening untuk sekian waktu saatnya. Setelah itu, ibu komunitas memulai pembicaraan, dan singkat cerita, terjadi rekonsiliasi malam itu juga. Kehidupan “Jemaat Perdana” pun tercipta malam itu. Dan seluruh anggota komunitas itu menyadari bahwa semua yang telah terjadi menjadi pelajaran yang sangat berharga dalam hidup mereka.

FSGM menjadi Formator: Kaul-Kaul Versus Tawaran Dunia

Dunia hidup kita sekarang ditandai oleh mobilitas yang tinggi, dinamika gerakan hidup manusia yang sangat cepat. Semua serba cepat dan mudah. Modernitas yang ditandai dengan alat-alat canggih mempermudah hidup. Modernisasi sangat menghargai tinggi produksi yang menuntut setiap orang harus produktif. Bila tidak, ia akan tertinggal dan terlindas oleh kemajuan zaman. Dalam situasi ini, kita menemukan manusia yang bekerja bagaikan robot. Manusia menjadi korban iklan dan menjadi konsumtif. Manusia merasa bahwa bila ia tidak menggunakan produk-produk tertentu, kemanusiaannya menjadi kurang. Harga diri dibarengi gengsi menuntut agar barang tertentu dibeli meski setelah itu tidak tahu apa manfaatnya untuk diri. (suster yang punya tiktok dan youtube dianggap lebih hebat dari suster yang tidak punya barang itu).

Bila kita refleksikan lebih mendalam, kadang dengan sistem produksi sekarang, manusia tidak lagi dihargai pada dirinya sendiri melainkan pada kerja dan hasil kerjanya. Karena itu manusia memaksa diri bekerja terus karena merasa bahwa dirinya dihargai sejauh kerja memuaskan. Dengan bangga juga orang menghargai dirinya yang super sibuk, yang tidak lagi mempunyai waktu bahkan untuk dirinya sendiri. Manusia merasa bahwa dirinya tidak lagi berharga bila tidak punya kesibukan. Maka sering sekali masa tua/pensiunan menjadi masa yang paling kelam. Satu hal yang ditemukan manusia ketika lepas dari segala kesibukannya yaitu keadaan dirinya yang begitu gelisah dan tidak mampu sampai kepada ketenangan batin. Ia sering merasa kesepian bila sendirian dan tak sanggup bertahan dalam kesendiriannya. Untuk menghindarkan diri dari keadaan budi dan hati yang kacau balau, kembali lari kepada kesibukan  supaya tidak bertemu kembali dengan dirinya. Akibat dari tidak mau melihat diri dan segala kekacauan batinnya itu, kesadaran manusia akan diri dan lingkungannya semakin berkurang atau mungkin hilang. Ini membuat manusia tidak peka lagi akan sesama yang di sekitarnya.

Manusia sesungguhnya adalah pengada yang memiliki kesadaran (consciousness), bukan saja kesadaran terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya melainkan juga kesadaran atas diri (self consciousness) dan keberadaan seluruh dirinya. Kesadaran diri menjadi dasar bagi kebebasan manusia untuk menentukan hidupnya. Berkat kesadaran, manusia mampu hadir pada dirinya sendiri dan menyentuh diri dari dalam. Berkat kesadaran, manusia juga mampu berefleksi. Kesadaran diri juga membuat manusia mampu mengambil jarak terhadap diri maupun terhadap dunia di luar dirinya (ingatlah kisah Yesus yang dicobai di padang gurun).

Syarat untuk dapat menyadari diri, untuk menjadi diri sendiri, adalah keheningan. Dalam keheningan orang dapat menggunakan kesadarannya  untuk berefleksi supaya hidup tidak dikuasai oleh hasrat-hasrat dan emosional yang tak berguna. Kemampuan menjadi hening merupakan hal yang sangat pokok dalam perjalanan menjadi diri sendiri. Hanya orang yang hening dapat berbicara secara benar dan mendalam serta tahu apa yang ia bicarakan.

Untuk menjadi hening, orang perlu berada dalam kesendirian. Musuh utama keheningan ialah kesibukan. Untuk itu, sekali-sekali manusia perlu keluar dari rutinitas dan kebiasaan hidup sehari-hari. Dan itulah yang sedang kita laksanakan pada saat sore ini. Semoga kita semua merasakan keheningan. Ini merupakan sebuah pelajaran berharga untuk zaman ini.

FSGM menjadi Formator: Kebiasaan bukan Rutinitas

Ada persamaan antara kebiasaan dan rutinitas yakni dalam ritmenya yang teratur. Namun demikian, kebiasaan berbeda dari rutinitas. Kebiasaan menyangkut pada sikap dan kecenderungan hati dan batin, dan karena itu diterjemahkan dengan kata habitus dalam bahasa Latin; sedangkan rutinitas berhubungan dengan cara dan jalan (route dalam bahasa Inggris) melakukan sesuatu.  Boleh kita katakan bahwa kebiasaan lebih dalam karena menyangkut sikap dan bisa dinilai secara moral, sedangkan rutinitas (hanya) menyangkut ritme.

Rutinitas itu biasanya melelahkan dan membosankan. Sebaliknya, kebiasaan itu umumnya nikmat dan menyenangkan. Yang menarik ialah kebiasaan hanya bisa dicapai melalui rutinitas. Mengenai kebiasaan, John Dryden pernah mengatakan, “Pertama kita yang membentuk kebiasaan, selanjutnya kebiasaanlah yang akan membentuk kita.”  Seorang perokok, peminum, penjudi, dlsb., tidak lahir sebagai perokok, peminum, dan penjudi tetapi karena dibiasakan, karena dilatih. “Ala bisa karena biasa”, kata peribahasa Melayu dan itu sungguh benar.

Kebiasaan tentu tidak hanya tentang hal-hal yang buruk, tetapi juga tentang hal-hal yang baik. Kebiasaan buruk mudah dicapai tetapi sulit dilepas; kebalikannya dengan kebiasaan baik. Untuk memperoleh kebiasaan baik, seseorang membutuhkan ketekunan, usaha dan tenaga ekstra; tetapi untuk melepaskannya biasanya tidak terlalu sulit. Lebih mudah menjadi pemarah dari pada penyabar; tetapi lebih mudah melepaskan sikap penyabar dari pada melepaskan sikap pemarah. Ini sebuah pelajaran bersama untuk kita.

FSGM menjadi Formator: Salib atau Kenikmatan

Jerat-jerat maut umumnya ditawarkan melalui kenikmatan. Karena itu hati-hatilah dengan kenikmatan semu atau kenikmatan sementara yang akan mengakibatkan siksa kekal. Dunia dan kemajuan sekarang sering menawarkan kenikmatan dan menjadikan manusia menjadi makhluk penikmat (carpe diem). Tidak perlu bersusah-susah, semua tersedia. Dengan demikian, inti kekristenan – SALIB – menjadi kurang/tidak laku dan ditinggalkan. Umumnya yang dicari adalah yang cepat saji, yang instant, mudah, dan nikmat. Tidak disadari bahwa hal ini sedang mengarahkan dan menggiring manusia ke dalam jurang yang dalam dan mengerikan, yakni kehancuran. Pelan tetapi pasti, keadaan ini sedang membentuknya menjadi manusia lemah, yang kurang daya juang, kurang kreatif dan malas, tidak produktif tetapi konsumtif. Dunia sekarang cenderung menggemukkan badan tetapi mengerdilkan jiwa dan roh manusia. (Semoga di sini tidak ada saudari yang demikian).

Mentalitas instant, cepat saji dan tanpa perjuangan berat adalah mentalitas kebanyakan orang zaman sekarang. Semakin sedikit orang yang menjadi pemikir yang mendalam sementara banyak memiliki tipe atau karakter penggembira. Orang yang memiliki karakter penggembira itu memang jauh dari stress, tetapi tidak mendalam, tidak mempunyai daya juang yang kuat. Penggembira itu tidak jauh dari Penikmat; dan Penikmat itu adalah murid yang paling dikasihi Setan.

Hati-hatilah para saudari, karena ada ungkapan spiritual yang mengatakan bahwa “iblis tidak pernah membukakan akibat suatu perbuatan ketika dia sedang membujuk seseorang untuk berbuat jahat. Namun, ketika akibat perbuatan tersebut menimpa seseorang, maka iblis pun pergi meninggalkannya untuk mencari mangsa lain.” Jangan mau mati konyol oleh kenikmatan yang semu. Ketika kamu mencium aroma kenikmatan, cepatlah sadar sebelum kenikmatan itu sendiri memabukkanmu sehingga lupa akan bahaya yang ada di balik kenikmatan itu.

Dalam hal ini hendaklah selalu kita ingat pedoman hidup bijak yang diungkapkan salah seorang sastrawan kita yang terkenal dengan judul karyanya: Sengsara membawa nikmat. Pedoman ini sangat kristiani dan injili. Dalam pedoman ini secara tidak langsung kita diingatkan akan bahaya kenikmatan yang membawa sengsara. Semoga ini menjadi sebuah pelajaran juga untuk kita.

FSGM Menjadi Formator: Nilai Hidup Bersama bukan Individualistis

Pengaruh zaman sekarang tampak dalam kesadaran dan kebebasan. Kadang-kadang kesadaran akan kebebasan itu dipahami sebagai kebebasan yang sebebas-bebasnya. Akibatnya kebebasan individu yang satu memakan kebebasan individu yang lain. Kita hanya memperjuangkan kebebasan kita sendiri tapi lupa menghargai dan menjunjung tinggi kebebasan orang lain, sehingga hidup bersama tidak harmonis lagi. Selain itu kesadaran akan kebebasan yang tidak tepat bisa juga menimbulkan ketakutan akan keteraturan, rutinitas dianggap membelenggu diri anti pada kemapanan. Rasa tanggung jawab akan kebersamaan dan orang lain melemah. Dengan kata lain, kita bersikap tidak mau peduli terhadap sesama kita.

Sifat Individualistis: Kepentingan pribadi sangat dinomorsatukan/diutamakan dan menindas orang lain dengan seenaknya. Kemudian muncul prinsip ‘lu-lu, gue-gue’ (emangnya gue pikirin …) uruslah urusanmu, aku mengurus urusanku. Terserah anda mau buat apa saja, asal tidak mengganggu urusanku. Sifat individualistis kadang dipengaruhi karena adanya spesialisasi dan profesionalisme. Orang hanya mau sibuk dengan profesi dan spesialisasinya sendiri tanpa melihat dan memperhatikan kepentingan atau kebutuhan sesamanya.

Hidup bersama dalam komunitas mewujudnyatakan persekutuan Gereja, sehingga hidup bersama seolah-olah menjadi Gereja mini yang menghadirkan keselamatan sekaligus mewujudnyatakan persaudaraan dan hubungan intim antara Allah dengan manusia. Selain itu hidup bersama merupakan wahana untuk mewujudnyatakan panggilan menuju kekudusan. Panggilan menuju kesucian dihayati secara konkrit dalam kebersamaan dan interaksi / hubungan dengan sesama. Tugas perutusan juga mendapat penerangan, dasar dan peneguhannya dalam kebersamaan.

Manusia tumbuh dan berkembang dalam kebersamaan, saling memberi dan saling menerima. Hidup bersama memberikan kepada masing-masing orang kejelasan dan kebijaksanaan hidup. Selain itu hidup bersama juga menciptakan ritme hidup yang diperlukan untuk pengarahan dan integrasi diri guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan diri serta kematangan dalam hidup rohani. Hidup bersama menciptakan peluang untuk pembinaan diri terus menerus menuju penyempurnaan diri.

Hidup bersama juga merupakan wahana untuk mengalami hidup dalam kasih. Melalui kebersamaan, setiap orang bisa mendapat jaminan untuk mendapat bantuan dari anggota lain maupun dari pemimpin komunitas. Dari sesamalah kita mendapat pengarahan, dorongan, semangat, teladan, dan koreksi yang sangat berguna untuk perkembangan pribadi kita. Di lain pihak kita juga sekaligus mengamalkan kasih, men-sharing-kan pengalaman hidup kita, memberikan kesaksian dan keteladanan sehingga kehidupan bersama menjadi pertemuan pribadi yang saling memberi dan menerima setiap anggota komunitas tidak hanya saling diperkaya tetapi juga saling mengenal dan menjalin relasi yang akrab.

Hidup bersama juga memudahkan kita untuk berkembang dalam kepribadian, dan persaudaraan serta bertumbuh dalam kerohanian. Hidup bersama dalam komunitas yang ditandai dengan persekutuan iman, semangat persaudaraan dan pengampunan merupakan jawaban nyata bahwa manusia dapat hidup bersama tanpa harus menciptakan neraka bagi orang lain. Ini juga adalah sebuah pelajaran.

FSGM Menjadi Formator: Allah adalah Formator yang penuh belas kasih

Sengsara membawa nikmat, nikmat membawa sengsara, sungguh-sungguh menjadi pengalaman konkrit dan menjadi pelajaran berharga bagi Si Bungsu dalam perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15: 11-32). Kebahagiaan dan kenikmatan hidup bersama Ayahnya menjadi kesengsaraan bagi dirinya sendiri. Mengapa “hal (aneh)” ini bisa terjadi? Karena egoisme, mengira bahwa bersama Ayahnya dia tidak akan pernah menjadi dirinya sendiri. Maka, untuk menjadi diri sendiri dia harus meninggalkan rumah Ayahnya. Dia harus melepaskan diri dari “kuasa” dan “pengaruh” Ayahnya. Dia harus bebas dan mengatur diri sendiri. Dia  ingin menikmati hidup untuk diri sendiri. Oleh karena itu, dia meminta warisannya.

Keinginan untuk menikmati “hidup bebas” ini telah menjerumuskan dia kepada dosa besar. Ia telah melawan hukum: melawan kewajiban menghormati orangtua. Seorang anak yang hormat pada orangtuanya, tidak akan meminta hak warisan tetapi menanti sampai orangtuanya merasa pas waktunya untuk membagikan warisan tersebut kepada anak-anaknya.

Setelah merasakan sendiri hidup di luar lingkungan Ayahnya, si Anak Bungsu sadar bahwa kebahagiaan itu ada dalam hidup bersama Ayahnya. Tetapi pada awalnya dia tidak mau kembali. Apakah karena malu, menjaga harga diri, atau sombong? Kemungkinan besar penyebabnya adalah kesombongan. Dia rela bekerja menjaga babi, padahal tugas ini dilarang bagi seorang Yahudi.

Setelah “menyadari keadaannya”, dia yakin hanya bersama Ayahnya dia bisa berbahagia. Kesengsaraan membawa nikmat. Kesadaran anak itu kemudian berkembang ketika ia mengatakan: “Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Kesombongannya telah berubah menjadi kerendahan hati.

Setelah si Bungsu kembali kepada Ayahnya, apa yang dilakukan sang Ayah? Sesuatu hal yang sama sekali diluar dugaan si Bungsu terjadi, Sang Ayah menyiapkan segala yang terbaik untuk si Bungsu. Menyiapkan Jubah yang paling bagus, cincin, sepatu, dan menyembelih lembu tambun, serta mengajak semua orang untuk berpesta sebagai tanda suka-cita. Hal ini hedak mengisahkan kemurahan hati sang Ayah.

Perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus kepada murid-Nya ini hendak mengajarkan kepada kita bahwa Allah itu adalah Bapa yang sangat baik, Dia adalah sumber belas kasih satu-satunya. Dan Allah itu adalah model Formator yang penuh dengan cinta kasih. Allah yang tidak memaksakan kehendak-Nya semata, Allah yang memberi kebebasan kepada anak-anak-Nya, dan pada akhirnya sekalipun anak itu penuh dosa, Dia penuh dengan cinta kasih mengampuninya dan bersukacita atas pertobatan yang dilakukan si anak. Maka kita mengenalnya sebagai Allah Yang Maha Rahim, penuh kasih sayang, rasa damai, pengampunan, dan cinta kasih.

Penutup

Kata Formator tidak bisa dipisahkan dari kata Formandi. Artinya, bahwa setiap formator adalah formandi juga atau setidaknya pada waktu yang berbeda pernah menjadi formandi. Hal ini saya yakini dari ungkapan yang mengatakan “Hanya orang yang mempunyai dapat memberi”. Maka, saya yakini, sebelum kita menjadi formator baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, hendaknya kita mau juga menjadi formandi. Sehingga apa yang kita dapatkan dari setiap pelajaran hidup ini dapat kita bagikan kepada orang lain dengan penuh kejujuran, karena memang kita memilikinya. Maka sebagai Formator yang baik kita harus rela menjadi formandi yang terus-menerus belajar tentang kehidupan ini.

Pengalaman  yang dialami oleh suster muda pada kisah awal dan beberapa topik-topik bahasan di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa dalam hidup bersama dan usaha kebersamaan ternyata ada tantangan, kesulitan dan proses penyatuan yang membutuhkan keaktifan masing-masing pribadi. Perlu banyak waktu dan upaya untuk membangun kehidupan bersama dan dapat meminimalkan kesulitan dan tantangan. Benar bahwa ada masa saat krisis dalam hidup bersama, kita dihadapkan pada pilihan yang sulit, ada kesibukan yang tidak bisa dihindarkan, ada masa di mana tak ada harmoni dalam komunitas, itulah kenyataan. Tetapi di samping itu semua mari kita sadari bahwa kita semua, sebagai anggota komunitas, adalah Formator. Keharmonisan dalam komunitas tidak cukup hanya tanggung jawab ibu komunitas.

Sekalipun kita masih muda atau kadang merasa muda (sekalipun sudah tua begitu), kita harus menyadari bahwa kita semua adalah Formator satu dengan yang lain. Kisah di atas merupakan sebuah cerita saja dan tema-tema di atas hanya sebagian kecil dari cuplikan kehidupan komunitas kita. Namun mari kita melihat “ke-kini-an” diri kita, maka dengan demikian kita bebas bernafas dalam cinta Allah dan dapat pergi ke luar untuk memeluk Allah, yang adalah sumber belas kasih itu, di dalam setiap makhluk ciptaan-Nya, khususnya di dalam setiap anggota komunitas kita masing-masing.

Kekasih dan yang Dikasihi

By: Ramon Lull

Sang kekasih ditanya dia milik siapa.

Dia menjawab , “Milik cinta”

“Dari mana engkau dicipta?” “Dari cinta”

“Siapa melahirkanmu?” “Cinta”

“Di mana engkau lahir?” “Dalam cinta”

“Siapa mendidikmu?” “Cinta”

“Bagaimana engkau hidup?” “Dengan cinta”

“Siapa namamu?” “Cinta”

“Dari mana engkau datang?” “Dari cinta”

“Kemana engkau pergi?” “Ke cinta”

“Di mana engkau sekarang?” “Di cinta”

“Apakah engkau mempunyai selain cinta?”

“Ya, saya mempunyai dosa dan kesalahan terhadap kekasihku”

“Adakah pemaafan dan kekasihmu?”

“Sang kekasih mengatakan bahwa dalam kekasihnya ada belas kasih dan keadilan, dan karena itu dia hidup di antara ketakutan dan pengharapan.”