KENOSIS


Catatan A. Eddy Kristiyanto OFM

 Pada kesempatan ini, saya bermaksud memaparkan gagasan dan cara perpikir yang digali dari Kisah Para Rasul 3:19. Penegasannya berbunyi demikian, “Mesias yang diutus Allah harus menderita. Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan.

Inti pewartaan yang terungkap dalam Kisah Para Rasul 3:19 tersebut mempertegas Allah macam apakah yang perlu dipercayai Kekristenan. Kemudian, Mesias di dalam diri Yesus yang dijadikan Kristus memiliki peran macam apa. Lalu, apa yang perlu dilakukan oleh komunitas yang percaya akan inti pewartaan, dan akhirnya simpul macam apa yang dapat ditarik daripadanya.

Pewartaan yang diwariskan oleh Petrus dan sampai pada kita sekarang ini berisi tentang Allah yang berpihak pada kita, ciptaan-Nya. Keberpihakan Allah diperlihatkan melalui pengakuan tentang Allah itu bukan hanya penciptakan (seperti yang disampaikan dalam Kitab Kejadian), tetapi juga dalam penyelenggaraan hidup ini (seperti diringkaskan dalam Kis. “Allah Abraham, Allah Ishak dan Yakub, Allah leluhur kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus”).

Singkat kata, Allah yang diperkenalkan, diakui, dan diabadikan oleh Petrus (dan para penerus imannya) adalah Dia yang menciptakan dan memelihara hidup, yang mencintai. Tiga aspek dalam satu dimensi, yakni menciptakan, memelihara, dan mencintai hidup inilah hakikat/esensi Allah.

Kemudian, untuk mewujudkan esensi Allah itu, Dia memakai jalan atau cara yang disebut pewahyuan diri, penyingkapan diri dalam Yesus Kristus. Jalan atau cara penyingkapan paling tandas adalah pengosongan diri (dalam istilah alkitabiah adalah kenosis, pengosongan diri, pengurbanan diri, penyangkalan diri, kehendak, perendahan diri). Mengapa jalan ini yang ditempuh?

Ada banyak sekali cara mengurbankan diri demi tujuan mulia dan luhur, tetapi kayaknya tidak ada cara lain yang lebih unggul daripada kenosis.

Dua persoalan yang tersisa, yakni apa yang perlu dilakukan oleh pribadi dan komunitas, serta simpul macam apa yang dapat ditarik daripadanya, praktis merupakan tugas dan tanggungjawab kita.

Kisah Para Rasul mengingatkan dan menyerukan, sadarlah dan bertobatlah. Semua sudah diberikan Allah pada kita; dan Allah terus-menerus melakukan penegasan keberpihakan-Nya dan kehendak-Nya. Allah juga tidak memberi tugas dan tanggungjawab pada kita melampaui kemampuan dan kodrat kita.

Jadi, semua sudah diserahkan oleh Allah pada peran, tugas, dan tanggungjawab kita. Bagaimana kita turutserta dalam proyek penyelamatan Allah sejauh itu dikehendak Allah?

Jadi, Allah mencipta, menyelenggarakan, mencintai hidup di dalam dan melalui Yesus Kristus agar segenap ciptaan berkobar sampai akhir di dalam keutamaan. Konkretnya gimana?

Memohon dengan rendah hati kesetiaan untuk menghasrati dan mengupayakan vestigia Dei (artinya: jejak Allah).  Caranya dengan pendekatan kesadaran (atau konsientisasi), mengelola hati dengan mencintai, mengupayakan dengan membiasakan diri, merefleksikan (mengevaluasi) dan “memulai lagi” (seperti halnya dipahami oleh para Fransiskan diasalkan dari ucapan Fransiskus Assisi; atau eksplorasi dalam pemikiran Gabriel Marcel), dan memberbesar sikap syukur.****