By. Sr. M. Pauli
Kapitel Jenderal yang berlangsung di Thuine, Jerman, 18-29 April 2022, terpilih Sr. M. Pauli FSGM sebagai Dewan Jenderal, dari provinsi Indonesia. Sebelumnya, Sr. M. Pauli mendapat tugas perutusan sebagai Ketua Yayasan Dwi Bakti. Berikut tanggapan dari Sr. M. Pauli yang disampaikan dari hatinya yang terdalam.
Perasaan saya saat menerima tugas perutusan yang baru ini pada awalnya saya sangat terkejut, seperti sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada saya, dan merasa sungguh-sungguh berat dan ingin menolak rasanya. “Kok saya!!!”
Rasa nano-nano
Perasaan saya campur baur, gelisah dan gundah. Sampai malam saya tidak bisa tidur dan gelisah. Menangis sedih dan terasa tak berdaya juga saya alami berhari-hari. Yang ada di kepala dan benak saya dan menguasai saya adalah bahwa ini tidak mungkin terjadi, pasti keliru, dan entahlah semua perasaan campur aduk silih berganti datang dan pergi.
Saya merasa diobrak-abrik dan serasa bangunan harapan-harapan saya runtuh berkeping-keping. Begitu banyak hal yang telah saya pikirkan sebelum semua ini terjadi, saya telah mencoba membuat alur kerja yang selama ini saya tekuni. Juga begitu banyak mimpi saya gantungkan dan angankan dalam tugas pelayanan yang sedang saya emban.
Saat itu, saya merasa tidak dimengerti, merasa sia-sia dan merasa sungguh-sungguh sendirian dalam malam yang panjang.
Saya mencoba menenangkan diri, namun juga tidak membuatku lebih baik. Dalam doa dan adorasi bersimpuh di hadapan Sakramen Maha Kudus, saya mencoba menerima semua perasaan yang berkecamuk dalam hati saya, dan terus membiarkan saya hanyut dan larut entah berapa jauhnya untuk memberi ruang batin saya mengalami yang disebut malam gelap.
Dalam permenungan saya, batin dan perasaan saya belum sepenuhnya berdamai. Dalam ketakberdayaan dan kekecilan saya, saya melihat terang dan merasakan Tuhan menuntun pikiran dan budi saya, hati dan batin saya. Tuhan hadir menjadi pribadi yang berdiri kokoh kuat bagi saya, memberikan keteguhan dan keyakinan bahwa semua terjadi atas restu dan berkat-Nya.
Tuhan membiarkan semua terjadi
Dia membiarkan semua terjadi sekaligus bersabar dengan proses saya. Pelan-pelan saya mencoba menerima tugas perutusan ini dan percaya bahwa Tuhan yang akan menuntun segalanya kepada kehendak-Nya. Saya melihat dalam terang iman, bahwa sekali pun jika disuruh memilih, saya memilih untuk tinggal di Indonesia dan bekerja di Indonesia, namun melihat kongregasi secara lebih luas, saya diyakinkan bahwa saya dipanggil bukan hanya untuk karya di Indonesia.
Kuat kuasa-Nya
Hidupku, panggilanku, dan perutusanku saya tempatkan dalam satu titik gerak kongregasi yang lebih luas. Memang semuanya belum nampak jelas, namun yang membuat saya percaya dan mempercayakan segala harapan saya adalah Allah yang kuat kuasa.
Dia mampu mengubah jalan yang berlekuk liku menjadi jalan yang rata dan baik. Dia mampu menciptakan sumber air dalam padas kering. Dia juga mampu memberi kesejukan dan hujan di tengah siang panas yang terik. Dia mampu juga membuang perasaan-perasaan negatif saya yang menyelinap menjadi sebuah mosaik iman. Dan Dia mampu merancang masa depan yang lebih baik.
Siapalah saya ini dalam seluruh gerak dan hidup kongregasi FSGM yang tidak kecil ini. Namun, saya merasakan begitu dalamnya Dia menyentuh kemanusiaan saya dan membiarkan saya merasakan bahwa segalanya mungkin bagi yang percaya kepada-Nya. Sepertinya Tuhan sedang bermain peran dan tahu bagaimana “menggunakan” saya dengan segala keterbatasan dan kelebihan saya. Sempat juga saya berdialog dengan-Nya, “permainan apa lagi Tuhan yang akan kautawarkan pada saya….” seruku lirih dalam kegelisahan.
Saat ini, saya berserah dan mempercayakan semua pada rencana kasih-Nya, serta membiarkan Dia bertindak atas seluruh hidup saya. Saya akan menjalani peziarahan baru ini dengan iman yang teguh, harapan yang besar, dan kasih yang sederhana. Percaya Dia akan mengatur alur cerita dan kisah untuk hidup saya, dan saya dengan rendah hati akan menjalaninya dengan sabar.
Doa para Suster di seluruh provinsi St Yusuf, akan selalu menguatkan saya dan saya rindukan. Terimakasih atas kepercayaan kongregasi yang begitu besar untuk saya, walau saya tidak pantas menerimanya.***