Identitas FSGM

Redaksi
3 Min Read

Sekitar 80 suster mengadakan Temu Akbar Pelayan Persaudaraan (TAPP) yang diselenggarakan di RR LaVerna. Pertemuan ini diadakan pada tanggal 26 November – 1 Desember 2016.

Miserando et Eligando (Menatap dengan Belas Kasih  Allah). Pembukaan tahun Kerahiman pada 8 Desember 2015 ditandai dengan pembukaan Porta Sancta Pintu Suci  Basilika St. Petrus. Tema Kerahiman Allah yang diangkat oleh Paus Fransiskus mengajak manusia untuk mengenal Allah melalui Putera-Nya Yesus Kristus. Allah yang tidak kelihatan menampakkan wajah-Nya dalam Diri Yesus Kristus yang menjadi manusia. Dengan kata-kata dan tindakan, bahkan dengan seluruh hidup-Nya, Yesus telah menyatakan kerahiman Allah sehingga siapa saja yang melihat Yesus, melihat Bapa.

Muder Anselma pendiri FSGM, menemukan kasih Allah yang penuh kerahiman Allah dalam lambung Yesus yang tertikam, yang mengalirkan darah dan air, yang memberi kehidupan baru. Inilah pengalaman mistik Muder Anselma. Kasih Allah begitu kuat mempengaruhi hidup dan cara berpikir serta bertindak Muder Anselma. Pengalaman kasih Allah  mendorong  Muder Anselma untuk datang memandang dan menimba dari Yesus yang  tersalib dan tertikam lambung-Nya

Dalam TAPP tahun ini para suster peserta TAPP dibantu oleh Rm. Paul Suparno SJ untuk semakin mendalami identitas FSGM yang kontemplatif aktif. Kontemplatif dan aktif merupakan dua dimensi hidup yang tidak bisa kita pisahkan satu dengan yang lain.

Menanggapi keprihatinan yang ada di dunia zaman ini, bagi FSGM sebagai kongregasi kontemplatif aktif dengan model spiritualitas Having a Mary Heart in a Martha Worked merupakan pilihan yang sangat tepat. Panggilan hidup religius kontemplatif aktif bukanlah  untuk menghindari dan menutup diri terhadap segala  kemajuan yang ada, dan bukan juga sebuah pilihan  untuk melebur, hanyut kehilangan identitas. Hidup religius kontemplatif aktif adalah  religius  yang secara intensif membangun  relasi dengan Allah serta rela  hadir secara aktual di tengah keprihatinan dunia untuk menyentuh dan  tampil sebagai  saksi Kristus yang dinamis dalam setiap zaman. Dengan demikian era globalisasi bukanlah penghalang bagi kehidupan religius melainkan  merupakan moment yang berahmat untuk memurnikan diri dan bersaksi. Globalisasi  dapat menjadi peluang emas untuk mendidik dan membentuk setiap pribadi religius menjadi semakin handal dan berwawasan global namun tetap tegas dan bertanggung jawab atas hidup panggilan dan perutusannya.

 

[Best_Wordpress_Gallery id=”8″ gal_title=”TAPP 2016″]

Share This Article