JAUH PANGGANG DARI API

Redaksi
4 Min Read

By. Eddy Kristiyanto OFM

Ahli Taurat, tanpa nama itu tahu hukum yang terutama, yakni yang bercorak mengatas dan mendatar. Tuhan Yesus melihat kepakaran Ahli Taurat dan menyatakan posisinya, yaitu: dekat dengan Kerajaan Allah. (Lihat Markus 12:34).

Karya Markus ini kiranya cukup untuk melihat dengan cermat kita sendiri. Saya mengajak saudara sekalian untuk secara jujur melakukan diskresi, yakni tuntutan dari dalam diri untuk mempertanggungjawabkan tugas dan kepercayaan supaya pelayanan kepada komunitas bernilai tinggi karena berkeadilan.

Saya mulai dari premis (dasar pemikiran), bahwa kita semua (tanpa kecuali) dalam  hidup-bersama-kita (di komunitas ini) mutlak perlu direformasi secara radikal. Sebab,

kita semua munafik. Sebab kita semua mengaku sebagai religius Fransiskan, namun secara terang-terangan melanggar, melawan, menabrak janji setia yang kita ucapkan dengan sadar. Niat yang kita sendiri bangun dengan mudah kita sendiri runtuhkan dengan excuse yang dicari-cari;

kita semua seperti autopilot. Kita seperti mencari sendiri kedewasaan kita, diserahkan pada kebebasan dan ketidaktahuan sendiri; seakan kita merasa cukup dengan informasi formatif baik di novisiat dan tahap sesudahnya, maupun di perkuliahan dan on-going formation. Jadi, kita semua seperti kawanan yang mencari-mencari sendiri keselamatan itu. ……….. Dan ini kiranya sangat jauh dari semangat persaudaraan;

kita semua sangat individualistik, dan sangat memikirkan diri kita sendiri (egoistik). Kalau kita lebih mementingkan diri sendiri dengan tidak hadir dalam acara bersama dengan alasan egoistik, ini apa artinya? Kalau kita merasa OK, dan sesama kita ternyata tidak-OK, lalu bagaimana selanjutnya? {Contoh konkrit: kita membersihkan rumah pada suatu pagi, dan pada saat itu ada yang absen dengan alasan yang sah. Hal yang biasa terjadi adalah tempat yang seharusnya dibersihkan oleh yang absen kemudian dibiarkan dan tidak disentuh sama sekali oleh yang lain; dan saudara yang absen sendiri juga tidak rendah hati meminta bantuan dan memgkomunikasikan persoalannya}. Sepertinya mayoritas dalam komunitas kita melestarikan individualisme yang kronis yang menggerogoti persaudaraan;

kita semua puas diri, dan merasa tidak ada yang perlu diubah, dan dengan apa yang selama ini berjalan kita merasa semua sudah OK. Tidak perlu ada reformasi! Pasti kita tidak habis-habisan dalam berjuang. Sama sekali tidak all-out. Kita terlalu sering tidak jujur menghadapi pertanyaan diri: Apakah kita sudah optimal dan maksimal melakukan hidup kita, ataukah masih disemangati kemalasan, ketidaksiapan kita untuk berubah terus-menerus?

kita semua tidak memberikan terbaik, belum merasa memiliki cara hidup ini. Indikasi formatif kita antara lain memperlihatkan: Angka pendidikan kefransiskanan kita hanya berkisar 18%. Artinya, sekitar 80%  gagal dan menempuh jalan lain. Mungkinkah itu karena kita semua bagaikan tidak tahu arah?

Mengetahui saja belum berkualitas, maka kebijaksanaan itu masih jauh panggang dari api.

Akhirnya, bagaimana kita ke depan? Kita perlu sadar akan situasi krisis ini, kemudian melakukan reformasi (perubahan). Misalnya, kalau masing-masing dari kita menyatakan, umpamanya dalam rapat komunitas, apa yang perlu dirombak dan diperbaiki dari diri kita pribadi, …… inilah suatu awal perbaikan yang semoga diberkati Tuhan. ****

 

Share This Article