Catatan A. Eddy Kristiyanto OFM
Di tengah aktivitas kamariah (baca: bersifat kamar) karena situasi pandemi Covid-19 ini, saya mereguk nutrisi-mental dengan membaca dan menulis. Buku yang tengah saya kunyah-kunyak bertajuk “The Radical Disciple”, buah pena John Stott, seorang pengkhotbah, penginjil, dan penulis. Majalah Time tahun 2005 mengakui John Stott sebagai salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di dunia.
Di dalam buku Stott tersebut, beliau menyatakan bahwa mengikut Yesus berarti membiarkan Dia mengarahkan agenda hidup kita. Kita tidak boleh menetapkan batasan-batasan ketuhanan-Nya atau menghindarkan diri dari harga yang harus dibayar karena komitmen kita. Dia memanggil, kita mengikuti-Nya.
Sokoguru
Dalam rangka mengikuti-Nya, saya membaca dan mengerti bacaan suci Mrk. 9:2-10 (dan paralelnya). Saya membayangkan sekurang-kurangnya ada 6 (enam) unsur yang merupakan sokoguru atau pilar yang konstitutif dan perlu ada untuk tegaknya bangunan kemuridan.
Pertama Komunitas. Persekutuan antara Yesus dan para murid: Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Di dalam komunitas ini ada peran yang diemban masing-masing. Komunitas ini menegaskan sifatnya, yakni sosial, bersama sesama dan religius, ada satu kerinduan dan harapan yang mengikat kebersamaan. Di komunitas ini ada kebebasan untuk mengekspresikan pemikiran dalam kata dan ungkapan. Kesempatan untuk berada dalam “peak-experiences”: pengalaman-pengalaman yang mengantar mereka berada pada puncak kedalaman.
Kedua Kaderisasi. Cara terbaik untuk menempuh kaderisasi adalah “turun ke lapangan”, mengalami langsung, Sang Guru memberi suriteladan atau contoh konkret. Kaderisasi itu semacam “lari estafet”, di mana masing-masing pelari dalam kesatuan menyampaikan “gulungan” kepada yang lain. Diharapkan pola ini selain membentuk mental-spiritual para murid, juga keyakinan dan kesadaran mereka sehingga pada gilirannya mereka sendiri akan bertindak sesuatu, yakni menjadi kader yang militan.
Ketiga Preparatio, Persiapan. Seluruh proses pemuliaan Yesaus di atas gunung atau transfigurasi itu dapat dipandang sebagai langkah-langkah yang pasti menuju Jerusalem. Para murid dibekali dengan pengenalan dua hal, yakni hukum kasih (yang hanya bermakna jika dipraktikkan, bukan diwacanakan saja) dan persatuan dalam intimacy (yang diartikan sebagai belarasa-tak-bertepi).
Keempat Perubahan dalam Bentuk Transfigurasi. Yesus sendiri mengalaminya. Apakah pengalaman Yesus juga merupakan milik para murid? Membaca kisah hidup para rasul, saya dapat menyimpulkan bahwa proses perubahan itu juga menjadi bagian para murid. Dengan demikian transfigurasi Yesus itu pada gilirannya menjadi tranformasi para murid,
Kelima Kekuatan. Dukungan, kerjasama, passion tokoh-tokoh seperti Musa dan Elia menegaskan bahwa Yesus positif. Artinya, tidak abu-abu, jelas keberpihakan-Nya. Hal ini juga menjadi pengingat, bahwa komunitas para murid ini tidak pernah berjalan sendirian.
Keenam Maklumat atau Wasiat yang perlu dirawat dan dipelihara dengan hati yang melaksanakan. Maklumat yang berbunyi: “Inilah Anak-Ku yang terkasih (dalam Injil Lukas dipakai istilah “yang Kupilih”), dengarkanlah Dia.” Inilah wasiat sekaligus imperatif kategoris yang tidak boleh ditawar-tawar dalam pelaksanaan oleh para murid Kristus.
John Stott dalam buku yang saya sebutkan di awal tulisan ini menyatakan, “Kita acap lupa tentang penggilan kemuridan kita, dan sibuk dengan kekristenan kita.” Dalam interpretasi saya, John Stott mengerti bahwasanya banyak di antara kita yang menghabiskan energi dan perhatian pada unsur-unsur kelembagaan (institusionalisasi), aturan, tatacara, dan bukan pada hal-hal yang baku dan pokok, substansial, dan cara hidup serta hakiki.*****