Berawal dari SKP
Soegiah, adalah nama kecil Sr. M. Lucia FSGM. Ia adalah putri ke sebelas dari tigabelas bersaudara. Ia lahir pada tanggal 26 April 1935 di Jakarta. Kedua orangtuanya beragama muslim dan mendidik anak-anaknya untuk taat pada agama, disiplin, santun, dan ramah terhadap semua orang. Soegiah kecil senang bermain seperti anak-anak pada umumnya, sampai terkadang dijemput oleh sang kakak agar pulang ke rumah.
“Orangtua kami begitu sayang kepada kami. Mereka mendidik kami dari hal-hal kecil, seperti kebersihan atau soal makanan. Kami selalu diminta berbaris oleh ibu ketika dibagi makanan, agar semua mendapat dengan porsi yang sama. Kalau untuk bapak, berbeda, karena ia ‘kan sudah bekerja untuk kami. Jadi, bapak mendapat tambahan telur,” kenang Sr. M. Lucia sambil tertawa.
Didikan keluarga inilah yang kemudian hari menjadi bekal perjalanan panggilan Sr. M. Lucia. Bagaimana awal mula sampai di Pringsewu, Lampung? Kisahnya, salah satu kakaknya ada yang bekerja di Tanjungkarang. Ia memberitahu bahwa di Pringsewu, Lampung akan dibuka Sekolah Kepandaian Putri (SKP). Dengan semangat yang berkobar-kobar, Soegiyah melangkahkan kaki menuju Pringsewu, Lampung. Di sinilah benih panggilan mulai bertumbuh di sudut-sudut hatinya yang terdalam.
Melihat keseharian para suster dan pastor yang bekerja keras dan ramah terhadap semua orang, membuat hatinya tergerak untuk bertemu Mgr. Hermelink, yang ketika itu masih menjadi imam. “Pastor, saya ingin menjadi suster!. Lalu pastor itu menjawab, kamu harus belajar agama dahulu supaya dapat dibabtis dan baru bisa menjadi suster,’ cerita Sr. M. Lucia menirukan kata-kata Mgr. Hermelink.
Lucia kecil sempat bingung mengapa harus belajar lagi, padahal dalam hal mengaji, ia mengaku sudah lancar. Setelah satu tahun belajar katekumen, Lucia kecil dibabtis dan diberi nama: Wilfrida Maria Soegiah. Ia langsung masuk postulan. Waktu itu penerimaan postulan dengan upacara bersujud di ruang tamu susteran lalu dikenakan baju biara.
Perjalanan hidup panggilannya tak semudah dan tak seindah yang Sr. M. Lucia bayangkan sebelumnya. Banyak tantangan yang ia alami, baik dalam hidup bersama, tugas perutusan, mau pun keluarganya. “Keluarga saya tidak menyetujui pilihan hidup yang seperti ini, yang terkadang membuat saya bertanya, sungguhkah saya dipanggil oleh Tuhan?” ungkapnya. Namun kesetiaannya untuk bertahan dan percaya bahwa Tuhan memegang dan memeliharanya, membuat Sr. M. Lusia senantiasa mengalami kegembiraan apa pun situasinya.
Enampuluh tahun hidup membiara adalah sebuah perjalanan panjang. Banyak suka duka yang ia alami bersama para suster dan orang-orang setempat di mana dahulu ia ditugaskan. Banyak anak didiknya yang telah sukses, bahkan berani memilih menjadi imam, biarawan-biarawati lewat tangannya yang kini lemah dan berkeriput. “Semua itu Tuhan yang bekerja,” ujar Sr. M. Lucia. ***
Fransiska FSGM