Catatan A. Eddy Kristiyanto OFM
“Mari, ikutlah Aku ….” (Mrk. 1:17) kata Guru Kehidupan kepada Simon dan Andreas. Dia memilih kedua orang itu untuk mengikuti-Nya. Dia tidak pertama-tama memaksudkan agar mereka menuruti ajaran atau doktrin-Nya.
“Ikutlah …. selain bersifat imperatif, juga secara alkitabiah berarti ajakan untuk mengenal, berjumpa, bersatu secara personal, membuat pertemuan antarpribadi. Kata lainnya, para rasul itu dipanggil untuk berjumpa dengan Guru mereka dengan mengikuti-Nya.
Apakah Yudas Iskariot itu tidak berjumpa dengan dan tidak mengikuti Gurunya?
Ternyata “Hal mengikuti Tuhan” itu tidak pernah sekali jadi, tidak pernah instan, tidak langsung jadi. “Hal mengikuti Tuhan” itu sebuah proses yang berkesinambungan, yang berjalan terus-menerus, dari hari ke hari, bahkan sepanjang hidup seseorang.
Menyatakan, “Ya, saya mengikuti-Mu” perlu terus-menerus dibarui. Sebab dengan pembaruan setiap kali berarti kita menyegarkan serta memperdalam.
============================
Kita mendengar bagaimana seorang pimpinan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 terkena Covid-19. Menurut pengakuannya, beliau menjunjung tinggi protokol kesehatan selama ini. Tentu saja, karena beliau menjadi pejabat publik sekaligus menjadi teladan.
Akan tetapi di tengah kesibukan tugas, kunjungan ke daerah yang terkena banjir bandang dan wilayah yang terkena gempa bumi berkekuatan 7,1 Skala Richter, bisa dimengerti kalau kondisinya menurun. Saat itu Covid menyelinap dan menyerang, meskipun beliau tidak merasa apa-apa. Baik-baik! Namun, hasil tes PCR SWAB berbicara lain.
Apa kaitan “mengikut Tuhan” dengan kasus Pimpinan Satgas yang terpapar Covid-19?
============================
Dalam hermeneuse yang bisa dipertanggungjawabkan, saya berkeyakinan bahwa mengikut itu sama dengan mengubah pola hidup, pola perilaku, pola berpikir, dan menyesuaikan diri dengan tuntutan yang dihadapi saat ini.
Kalau kita menyatakan, “Terima kasih, ya Tuhan, atas panggilan suci yang tengah saya tempuh ini,” apakah pernyataan ini benar-benar tulus? Ataukah pernyataan itu hanya tipu-tipu Tuhan untuk menyenangkan hati Tuhan, semacam lips service, alias keramahan di bibir saja.
Sebab semyatanya cara berpikir, cara berperilaku, mentalitas kita tidak sungguh berubah dan dibuah oleh kondisi tempat kita hidup.
Jadi, “mengikuti Tuhan” itu berarti mengubah cara hidup lama dengan hidup Guru Kehidupan secara berkelanjutan. Tidak ada ruang dan waktu untuk kendur, lemas-menyerah, apalagi menipu dan tidak jujur. ****