Menjadi Ilahi

Redaksi
4 Min Read

Pokok ajaran yang hendak disampaikan dalam Injil Matius 18: 21-35 diringkaskan dalam ayat terakhir:

“Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (ayat. 35).

Membaca pokok ajaran tersebut secara sepintas-kilas, kesannya Allah Bapa yang ada di surga tergantung pada sikap manusia. Maksudnya, kalau manusia bermurah hati memberikan pengampunan dengan segenap hati (tidak separuh hati, apalagi hanya sepertiga hati), maka Allah akan memperlakukannya dengan murah hati pula. Demikian pula sebaliknya.

(Khoq sepertinya Allah tidak mahakuasa, karena Ia hanya tergantung pada sikap manusia. Kayaknya, manusia menjadi “causa prima”; artinya, menjadi sebab utama atau asal-usul tindakan Allah. Bandingkan dengan Teori Domino, yang hanya “main” kalau ada pancingan).

Di sini dan pada kesempatan ini, saya tidak akan mengulas serta membeberkan soal pengampunan. Sebab, saya merasa ciut dan keder di hadapan Pater Andreas Atawolo OFM yang bukan hanya menjelaskan, tetapi juga (dan terutama) menghayati pengampunan dengan tandas.

Kita semua dapat menikmati, mengunyah, dan mencerna nutrisi kedalaman dan kelengkapan karya Pater Andreas Atawolo OFM di website: christusmedium.com.

Etika Bersama yang dijunjung tinggi para Fransiskan adalah: “Sesama OFM saling menghormati dengan segenap hati, tidak saling melanggar, kecuali dalam tiga asas bonaventurian, yakni kebaikan, kebenaran, dan keindahan.”

Penggambaran dalam perumpamaan Mat. 18:21-35 ini “dahsyat”, bahkan di luar batas kenormalan. Coba kita singkap sedikit dengan rekonstruksi terjemahankan kiwari:

**************

Ada orang berhutang 10,000.00 (sepuluh ribu) talenta. Jumlah ini kalau dibahasakan ulang sama dengan 164 ton emas.

Hutang sebanyak 164 ton emas itu dihapus karena Si Penghutang meminta, dan terutama pemberi hutang menaruh belas kasihan. Si Penghutang tidak sanggup membayangkan dirinya, isterinya, anak-anaknya dan semua yang ada padanya habis dijual untuk melunasi hutangnya.

Dalam cerita selanjutnya, ia mengutangi 100 dinar. Jumlah ini sama dengan 30 gram emas. Seharga upil, jika dibandingkan 164 ton emas. Ia memaksa temannya untuk melunasi utangnya.

*************

Dalam penelusuran saya, ajaran tentang pengampunan ini paling mudah dituturkan dan disampaikan, namun paling sulit dilaksanakan. Sepertinya, persoalan mendasar bukan terletak dalam AJARAN atau DOKTRIN atau ORTODOKSI, melainkan dalam TINDAKAN, PRAKSIS, atau ORTOPRAKSI. (Hal itu ditegaskan sekurang-kurangnya dua kali: Mat. 18:35; dan Mat. 6:14-15).

Dalam Ilmu Sejarah Gereja, ada sesuatu yang mencerahkan berhubungan dengan kesenjangan ajaran dan praksis Pengampunan:

*********

Novasius yang didukung oleh Paus Kalikstus melihat orang-orang yang murtad dan menyangkal iman pada saat penganiayaan atau persekusi. Sekarang setelah zaman penyaniayaan itu selesai (situasi damai dan tidak ada lagi persekusi), orang-orang itu menyesal dan mau kembali ke komunitas. Lalu, bagaimana sikap komunitas terhadap orang yang dulu murtad, mencari aman – selamat pada zaman sulit, dan kini bertobat ketika semua sudah aman dan damai? Novasius dan Kalikstus menyatakan, “Mereka kita terima!”

Sementara, Novasianus (yang didukung oleh Hippolitus dan Tertulianus) menyatakan: “Kami menolak mereka!”

**********

Ternyata, soalnya terletak pada KONTEKS YANG BERBEDA. Maksudnya, Novasius (dan Kaliktus) hidup di daerah yang tidak mengalami menganiayaan; sementara itu Novasianus (Hippolitus dan Tertullianus) sendiri mengalami sendiri penganiayaan dan persekusi itu.

Akan tetapi di atas semua, pengalaman itu perlu diyakini, “Mengampuni itu menjadi ilahi. Sebab mengampuni itu berarti melompati dan melewati batas-batas kemampuan insani.”  ***

 

Antonius Eddy Kristiyanto OFM

 

Share This Article