Mgr. Yohanes Harun Yuwono bersama Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus menandatangani prasasti peresmian gedung gereja Katolik St.Theodorus Liwa, Sabtu 7 September 2019. Bersamaan dengan peresmian ini, Gereja Katolik St. Theodorus Liwa ditingkatkan statusnya dari unit pastoral menjadi paroki.
Gereja yang dirintis sejak tahun 1972 ini, ibarat orang yang berladang, yang membuat gubuk di situ. Gubuk itu semakin lama semakin berkembang. Kalau dalam pemerintahan, perkembangan itu dimulai dari satu gubuk menjadi pekon, kecamatan, lalu kabupaten. “Bandingannya seperti itu, dari unit pastoral menjadi paroki,” jelas Uskup Harun dalam sambutannya.
Peningkatan status menjadi paroki ini terjadi karena dinamika, SDM, sumber daya finansial, dan kegiatan-kegiatannya sudah mandiri, tidak lagi tergantung pada Keuskupan Tanjungkarang. Uskup mengucapkan terimakasih kepada para romo yang telah membimbing umat Katolik di Liwa ini secara hidup-hidup. Sebagai Gereja Paroki, maka Gereja St.Theodorus Liwa membawahi sejumlah stasi-stasi yang tersebar di Lampung Barat dan Pesisir Barat.
Bergerak Bersama
Gereja Katolik berusaha senantiasa bergerak bersama pemerintah, begitu pula Gereja St. Theodorus Liwa ini. Pastor Paroki Rm. Bonivantura Yulianus Lelo OFM, yang biasa dipanggil dengan nama Rm. Bovan ini, menceriterakan satu pengalaman yang selalu dikenang dan membekas di hati umat Katolik Liwa.
Suatu hari Uskup Andreas Henrisoesanta SCJ (alm) berkunjung ke Unit Pastoral St. Theodorus Liwa. Hari itu juga datang Bupati Mukhlis Basri. Kedatangannya tidak diundang. Dengan rendah hati ia meminta doa dan berkat khusus dari Mgr. Henrisoesanta untuk proses jenjang kepemimpinannya.
“Yang menarik di sini, saat itu kami merasa dirangkul sebagai satu keluarga dan saudara. Dan merasa seperti para pejuang dulu, yang terikat dalam satu ikatan yang kuat dan sama yakni: Pancasila,” kata Rm. Bovan OFM.
Ikatan persaudaraan kuat yang telah terjalin lama itu membuat Rm. Bovan senantiasa bergerak dan mendukung setiap program pemerintah, salah satunya program literasi. Paroki ini menyediakan ruang Lamban Baca WKRI St. Theodorus di Gedung Le Baron.
Gereja Liwa juga berjuang supaya wisata pemerintah setempat bertumbuh dan berkembang. Ada istilah ziarek (ziarah dan rekreasi). Setelah umat berziarah ke Gua Maria Sekincau lalu dipromosikan untuk rekreasi ke Kebun Raya Liwa yang baru dan indah. Di kompleks gereja ada lapangan bulu tangkis dan futsal yang kami bangun bersama, boleh digunakan oleh masyarakat sekitar. “Ini wujud keterbukaan hati kami untuk sebuah kegembiraan bersama dan persaudaraan,” kata romo yang lahir di Manggarai, 1 Juli 1985 ini.
Perjalanan Panjang
Bupati Lampung Barat Parosil mengatakan, dengan diresmikannya Gereja Katolik St. Theodorus Liwa ini diharapkan semakin meningkatkan kualitas umat, baik dalam iman mau pun perbuatan dalam sehari-hari.
“Dengan diresmikannya gereja hari ini atas partisipasi semua pihak diharapkan dapat membantu memperkuat persatuan dalam keberagaman agama. Karena dengan terciptanya kerukunan antar umat beragama tentunya akan semakin meningkatkan peran serta umat beragama dalam pembangunan bangsa, termasuk dalam upaya mengatasi krisis ekonomi, krisis budaya dan juga krisis moral yang kita alami sekarang ini,” ujar Parosil.
Harapan dan mimpi-mimpi Parosil ini mirip dengan impian Uskup Harun Yuwono. Di mana Uskup Harun berada, ia selalu menghembuskan motto tahbisan uskupnya, Tuhan tidak membeda-bedakan orang. Kita bersaudara karena telah dipersatukan dalam ikatan Bineka Tunggal Ika yakni Pancasila. “NKRI adalah harga mati dan Pancasila sebagai dasarnya karena itu sampai mati pun kita wajib mempertahankannya,” tegas Uskup.
Uskup juga mengajak seluruh umatnya untuk melaksanakan dan menjaga ajaran agama yang sudah diimani, melaksanakan kasih dan persaudaraan antar sesama. Karena itu tidak diperkenankan satu pun dari umat Katolik melakukan kejahatan dan merendahkan orang lain.
Kedatangan Bupati Parosil disambut dengan tari Tor-Tor. Dalam rangkaian kegiatan ini juga ditampilkan seni Nyambai dan cerita rakyat Lampung. Ini semua sebagai wujud cinta untuk mengembangkan budaya daerah.
Perjalanan sejarah Paroki Liwa ini merupakan perjalanan panjang. Pada tahun 1972 Rm. Theodorus Borst menelusuri wilayah Lampung Barat untuk menjumpai umat. Waktu itu pelayanan masih berpusat di Kotabumi. Tahun 1986 Gereja Baradatu menjadi Gereja mandiri, maka pelayanan rohani di tempat ini semakin intensif. Pelayanan rohani dilakukan oleh Rm. Th. Borst bersama delapan orang katekis, salah satunya Antonius Sukaryo.
Tahun 1994 dengan situasi gempa Rm. Le Baron menetap di Liwa dan turut berdinamika membantu korban gempa. Menurut data tahun 2016 jumlah umat 905 KK. Perkembangan Paroki ini bagaikan zero to hero, dari yang kecil, tidak terlihat, tidak terdengar, sekarang menjadi besar. Namun, bukan berarti sudah selesai semuanya. Tetapi harus terus berjuang lebih keras lagi untuk mempertahankan status ‘hero’. Seperti perumpamaan yang telah disampaikan Uskup Harun.
Di samping Gereja Paroki Liwa, ada dua gereja lain yang juga diberkati oleh Uskup Harun, yakni: Gereja Stasi St. Paulus Pesisir Barat, 6 September 2019 dan Gereja Stasi St. Antonius Padua Sidomakmur, 8 September 2019. ***
M. Fransiska FSGM
[Best_Wordpress_Gallery id=”97″ gal_title=”Gereja Liwa”]