Lima tahun yang lalu, saya lewat di gereja ini dan melihat ibu-ibu sedang menggempuri tembok. Mereka bergotong-royong bekerja membangun gereja. Ing atase (padahal) ibu-ibu lho… Tetapi saya tidak melihat anak muda. Kalau anak kecil ada.
Nah, ibu-ibu yang sedang bekerja bergotong royong itu, saya jadikan seperti peribahasa: ‘Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri andayani’ – yang artinya: di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat dan di belakang memberikan daya kekuatan. Kata-kata indah itu berasal dari tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara.
Kalau itu terus terjadi, yakinlah lima belas tahun ke depan, gereja ini pastilah tidak cukup, karena akan terus berkembang. Mengapa? Karena ada pewarisan iman. Pewarisan iman itu tidak hanya kata-kata tetapi harus ada tindakan nyata, seperti ibu-ibu yang menggempuri tembok, tampak guyub dalam bekerjasama. Itu yang saya lihat, yang lainnya pastilah banyak teladan baik yang dilakukan mereka.
Peristiwa lima tahun yang lalu itu masih tertanam kuat dalam benak Uskup Tanjungkarang Mgr. Yohanes Harun Yuwono. Dan, dipaparkannya dalam khotbah pada Perayaan Pemberkatan Gereja Stasi St. Yohanes Sidoharjo E1, Paroki St. Andreas Rasul Mesuji, Senin, 19 Agustus 2019.
“Harapan saya: semoga gereja ini sungguh dimanfaatkan sebagai rumah doa. Tetapi juga dimanfaatkan sebagai rumah pembinaan mental spiritual agar kita terus dapat beriman dan hidup baik tanpa tergoyahkan oleh pesona dunia, semenarik apa pun. Ingat para sesepuh kita yang telah memberikan teladan dan menghidupi: ‘Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa.’ Patut diingat terus!” tegas Uskup.
Uskup Harun juga menyinggung tema Arah Dasar Keuskupan tentang keluarga. Uskup meminta agar keluarga-keluarga katolik setiap hari memupuk cinta Sehingga di keluarga itu menampakkan satu kesatuan, tidak berjalan sendiri-sendiri. “Setiap hari melakukan hal-hal positif, supaya bergerak maju seperti: berdoa bersama, berdiskusi dalam merenungkan Kitab Suci, dan menjalin komunikasi,” pinta Uskup Harun.
Stasi ini memiliki 25 KK. Mulanya mereka adalah para transmigran dari Gunung Balak, yang bedol desa pada tahun 1986. Banyak tangan kasih terulur dalam proses pembangunan Gereja St. Yohanes, Sidoharjo ini.
Usai Perayaan Pemberkatan Gereja, dilanjutkan dengan acara seremonial, pemotongan tumpeng. Setelah pemotongan pita, Bapak Uskup mempersilakan rombongan undangan masuk ke gedung gereja dan foto bersama. Hadir kepala kampung Sidoharjo, tokoh agama, tokoh pendidikan, sesepuh kampung, dan karang taruna. Tiga hari sebelumnya, para bapak dan ibu beragama muslim membantu masak mempersiapkan pesta syukur ini. ***
Fransiska FSGM
[Best_Wordpress_Gallery id=”95″ gal_title=”sidoharjo Mesuji”]