Pemberkatan Susteran St. Fransiskus Singaraja, Bali

Redaksi
4 Min Read

news-a4news-a1 news-a2 news-a3

 

 

 

 

 

 

Empat tahun yang lalu Kongregasi FSGM hadir di Singaraja, Bali. Tiga suster tinggal di rumah kontrakan.
Hari itu, 14 September 2015, diadakan pemberkatan rumah biara FSGM yang baru. Perayaan Ekaristi Pemberkatan dipersembahkan oleh Mgr. Silvester Tung Kiem San dengan para konselebran: Rm. Handriyanto Wijaya, Rm. Hady Setiawan, Rm. Roberth, dan Rm. Flavianus Endi. Acara ini dihadiri para pimpinan komunitas Jakarta dan Jawa Tengah,  dan Pastor Paroki Pringsewu Rm. A. Sutrisno.

“Kami tidak pernah merencanakan untuk membuka komunitas di Keuskupan Denpasar ini. Seolah semua datang dengan tiba-tiba dan spontan. Namun, mengapa hati kami tertambak di Keuskupan ini,” ujar Sr. M. Aquina. Denpasar merupakan tempat persinggahan para suster bila mengadakan perjalanan Indonesia-Timor Leste. Tempat persinggahan kami adalah Betani-Kute. Di tempat itulah pertemuan kami dengan Rm. Hady yang sudah sekian lama tidak pernah berkontak. Perjumpaan itu menghantar kami ke tempat ini.

Sr. M. Aquina berkisah, berawal dari pencarian terhadap seorang saudari kami. Setelah lama mencari… akhirnya kami mendapatkan signal kemungkinan dia berada di Bali. Maka, dalam perjalanan kami ke Timor bersama Sr. Julia dan Sr. Julita, kami mencoba mempergunakan waktu itu untuk mencarinya, diantar oleh Rm. T. Almasan menuju alamat yang sudah kami bawa. Tanpa kesulitan apa pun kami menemukan alamat dan pribadi yang kami cari itu. Sejak saat itu komunikasi dan perjumpaan kami dengan Rm. Hady semakin meningkat. Dan, Rm. Hady terus-menerus mengusik kami, sehingga akhirnya kami berniat juga untuk melihat tempat-tempat yang ditunjukkan.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Singaraja. Dan, langsung menyentuh hati kami karena situasinya sangat menantang. Lewat berbagai proses kami menyanggupi dan menerima tawaran untuk hadir dan membantu di Keuskupan ini. Kami mengutus tiga suster: Sr. M. Floriani, Sr. M. Paskalia, dan Sr. M. Emanuella dengan menempati rumah kontrakan selama empat tahun.  Setelah masa kontrakan habis, kami berpikir, para suster akan tinggal dimana? Saat mempertimbangkan, tiba-tiba kami mendapat telepon dari seseorang yang menawarkan rumah joglo. “Bolehkah rumah joglo itu kami pakai untuk rumah suster di Singaraja?” cerita Sr. M. Aquina. Kalau suster membutuhkan rumah di Singaraja, rumah sudah ada, karena saya baru beli, sebuah rumah kayu gaya Minahasa, rumah itu untuk suster,
ujar Sr. Aquina menirukan jawaban telepon. Tuhan selalu bertindak pada waktunya. Penelepon itu adalah Ibu Yuyu.

Proses pembongkaran, pengangkutan, dan pemasangan kembali, semua kami terima dari kebaikannya. Kami mengolah lantai bawah dan lantai 2 sesuai dengan kebutuhan kami dan menambah beberapa kamar mandi, dapur, kamar cuci, dan jemuran. Sr. M. Aquina mengucapkan terimakasih kepada Bapa Uskup, para romo, umat, dan semua pihak yang telah membantu dan mendukung rencana Tuhan itu. Juga kepada Sr. M. Julia yang selama pembangunan telah tinggal di tempat itu untuk menjadi manager bangunan. Uskup Silvester San mengatakan, bergembira dan bersyukur karena Allah telah mengutus para suster FSGM untuk hadir di Singaraja, Bali ini. “Siapa tahu kalau jumlah mereka semakin banyak, ke depan akan hadir di Denpasar,” tutur Uskup.

Uskup meminta umat untuk terus-menerus memohon panggilan kepada Sang Empunya Kebun anggur supaya panggilan semakin banyak untuk menjadi imam, bruder, dan suster. “Ternyata panggilan tidak pernah cukup karena semakin dunia modern, semakin dunia membutuhkan tangan-tangan Allah untuk menyampaikan kabar sukacita-Nya.” Uskup juga meminta kepada pastor paroki agar memperhatikan kebutuhan hidup rohani para suster agar mereka kuat dalam iman sehingga karya-karya perutusannya semakin baik dan banyak jiwa yang diselamatkan. Acara diakhiri dengan pemotongan tumpeng.

Sr. M. Fransiska FSGM

Berita

Share This Article