Sebuah Seruan dan Undangan
Diakon Nicolaus Heru Andrianto
Kisah inspiratif terjadi pada Februari 1206 di awal pertobatan Fransiskus Assisi, pemuda yang awalnya suka foya-foya. Peristiwa ini terjadi di sebuah Gereja bernama San Damiano yang letaknya di pinggiran Kota Assisi. Ketika ia sedang berlutut dan berdoa di depan Salib Bizantium, Fransiskus mendengar suara yang keluar dari mulut Yesus yang tersalib, “Fransiskus, pergi dan perbaikilah Gerejaku yang kau lihat hampir roboh itu”! Seruan yang terdengar oleh Fransiskus Assisi untuk memperbaiki Gereja ini masih relevan gemanya bagi kita semua. Bukan dalam arti gereja fisik bangunan sebagaimana yang disangka Fransiskus diawal seruan yang ia dengarkan, melainkan Gereja dalam arti sesungguhnya, yakni sebagai persekutuan orang-orang yang beriman akan Kristus harus selalu berani memperbarui diri (Ecclesia semper reformanda).
Di masa pandemi yang masih membekas ini pun, Gereja dalam arti ini perlu mendapat perhatian yang sesungguhnya. Mentalitas kenyamanan dalam peribadatan yang selama ini dibangun dalam sistem daring dan serba online, harus kembali pada perjumpaan dari wajah ke wajah, menata perjumpaan yang telah lama tidak terjadi, menata kemantapan hati untuk berani keluar dari kenyamanan yang barangkali sudah mapan di hati masing-masing anggota Gereja.
Pandemi Covid-19 jangan sampai menjadi kambing hitam dan sesuatu yang patut disalahkan tatkala persekutuan Umat Allah (Gereja) tidak terjadi dalam rentang waktu yang cukup lama. Ketika situasi normal kembali, apakah Gereja sebagai persekutuan Umat Beriman masih berdiri kokoh seperti sediakala?
Perbaikilah Gerejaku, menjadi sebuah seruan dan undangan bagi kita semua sebagai batu-batu yang hidup untuk berdiri kokohnya Gereja Kristus di dunia ini. “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah” (1Ptr 2:5).
Betapa luar biasa panggilan kita sebagai batu-batu yang hidup yang diikutsertakan oleh Allah untuk membangun Gereja-Nya. Apakah kita menjadi batu hidup yang keras tak beraturan dan sulit disusun satu dengan yang lainnya? Apakah kita menjadi batu hidup yang bisa mengikuti pola susunan satu dengan yang lainnya? Apakah kita menjadi batu hidup yang bisa diletakkan di mana saja? Perbaikilah Gereja-Ku menjadi kerinduan Allah bagi kita semua, dan semoga ini juga menjadi kerinduan kita sebagai Gereja yang masih berziarah di dunia fana ini.***