Pionir Pribumi Pertama FSGM, Sr. Arnolde, Berpulang

Redaksi
5 Min Read

“Siapa yang mau menjadi guru di Lampung?” tanya Romo Albertus Hermelink SCJ. Di Lampung banyak anak-anak belum sekolah karena tidak ada guru, tambahnya lagi.  

Kala itu Romo A. Hermelink SCJ datang ke Ambarawa, Jawa Tengah, Juli 1937. Ia datang dari Pringsewu, Lampung untuk mencari tenaga pengajar.

Mendengar permohonan itu Arnolde kecil tergerak hatinya. “Kasihan,” ujarnya dalam hati. Arnolde kecil langsung tunjuk jari. Tetapi, ketika menoleh ke belakang, tak seorang pun teman-temannya yang tunjuk jari. Ia terkejut! Takut. Tak ada kawan.

Rasa takut itu ditepisnya. Arnolde kecil lebih melihat kebutuhan yang lebih besar lagi. Akhirnya, ia bersama Irma, seorang ibu dan tiga anaknya berangkat ke Lampung, 20 Juli 1939. Arnolde kecil tak lupa pamit pada Sr. Seraphine ADSK. Dikatakannya, kalau ia hanya dua tahun di Lampung.

Mereka berangkat dari Ambarawa, Jawa Tengah, naik kereta api ke Jakarta. Naik kapal. Turun di Panjang. Lalu menuju Pringsewu, Lampung. Tiba di sana Arnolde kecil langsung menemui Romo Hermelink SCJ. Olehnya ia diantar ke susteran. Tepatnya, di Jalan Gereja 13.

Jatuh cinta

Hatinya berbunga saat berjumpa dengan Muder. M. Odulpha. Ramah. Bersahaja. Menggunakan Bahasa Jawa halus. Perjumpaan itu menimbulkan desiran halus di hati Arnolde kecil untuk menjadi suster di biara Pringsewu.

Ternyata, Arnolde kecil hanya dua minggu di Pringsewu. Ia diminta tinggal di Metro, Lampung Tengah, untuk mengajar di SD Simbawaringin. Dengan taat, ia bergegas menuju ke tempat perutusan baru. Benih-benih panggilan untuk menjadi suster tetap bergema di relung-relung hatinya.

Arnolde kecil menceritakan keinginan hatinya itu ke Mdr. Odulpha. Ia diterima sebagai aspiran, Juli 1941. Dan mendapat tugas mengurus Sekolah Melania, Gadingrejo.

Transaksi mendebarkan

Tak disangka tak dinyana. April 1942, tentara Jepang tiba di Lampung dan Pringsewu. Semua pastor dan suster dibawa ke Tanjungkarang. Sementara para aspiran dilarikan ke rumah umat, Bapak Rono. Para tentara Jepang menghancurkan semua mobil. Keadaan rusuh.

Seiring waktu suasana agak aman. Arnolde kecil dihantar ke Metro dengan membonceng sepeda. Di Metro, Arnolde kecil mendapat tugas sebagai bendahara Rumah Sakit yang dikuasai Jepang.

Selama lima tahun Lampung tak ada pastor. Para pastor dan suster diinternir. Sang aspiran, Arnolde, tanpa takut menyamar menjadi orang dusun yang menjual bahan makanan, sayuran, tahu, tempe, pisang kepada para romo dan suster.

Jika romo dan suster membayar Rp.100,- akan dikembalikan menjadi Rp.200,- Tujuannya, agar para pastor dan suster dapat belanja lagi. Usai transaksi, Arnolde kecil cepat-cepat pergi. Hatinya berdebar. Takut. Tetapi syukurlah, malaikat pelindungnya selalu melindungi kemana pun Arnolde melangkah. Ia tak pernah tertangkap.

Hati ibu

Berbagai pengalaman masa lalu menempa Sr. M. Arnolde menjadi seorang pemberani, mandiri, dan tak mau menyusahkan orang lain. Semua keperluan pribadi sejauh bisa, ia kerjakan sendiri. Ia juga rajin dan terlibat aktif dalam kebersamaan baik doa, makan, dan rekreasi bersama.

Suster yang lahir 25 November 1925 ini juga seorang yang beriman mendalam. Ia memiliki devosi yang kuat kepada –Kerahiman Ilahi – Yesus, Kau Andalanku.

Mengenang Sr. M. Arnolde, berarti mengenang karakternya yang kuat. Displin. Teliti. Tanggungjawab. Rajin bekerja. Sederhana. Sopan. Siapa pun yang berhadapan dengannya pastilah segan.

Namun dibalik karakternya itu, ia sungguh memiliki hati seorang ibu. Suster bertubuh kecil dan berkulit hitam ini memiliki perhatian pada semua orang. Baik kepada para suster di komunitasnya juga kepada masyarakat sekitar di mana ia tinggal. Ia seorang yang murah hati. Rela membantu siapa saja yang memerlukan pertolongan. Terlebih, bila ada yang butuh biaya sekolah. Sebisa mungkin akan ia usahakan, demi masa depan anak tersebut.

Pikirannya selalu positif terhadap semua orang. Ia tak pernah menaruh curiga pada orang lain. Apalagi bila yang datang butuh bantuan. Menolong ya menolong, begitu prinsipnya. Baginya, lebih baik dibohongi daripada membohongi orang.

Mulai ringkih

Di usia kepala sembilan kondisi fisiknya semakin lemah. Sr. M. Arnolde tinggal di Komunitas Maria Fatima Gisting untuk mendapatkan perawatan.

Pada Hari Orang Sakit Sedunia, 11 Februari 2021, Sr. M. Arnolde menerima sakramen pengurapan orang sakit dari Rm. YR Susanto SCJ.

Tanggal 12 April 2021 pagi kondisinya masih seperti biasanya. Setelah minum dan

snack ia kembali ke kamar. dengan tenang Sr. M. Arnolde dijemput saudari maut menuju rumah Bapa.

Kongregasi FSGM kehilangan pionir pribumi pertama. Namun, biji gandum itu yang jatuh ke tanah itu  telah menghasilkan buah yang berlimpah ruah….

M. Fransiska FSGM

[Best_Wordpress_Gallery id=”143″ gal_title=”Arnolde FSGM”]

 

 

 

Share This Article