RIP Sr. M. Sita FSGM

Redaksi
4 Min Read

O Yesus yang Mahakasih, ijinkan aku menyerahkan jiwa raga dengan segalanya, dengan melayani Engkau sampai akhir hidup, asal Engkau tidak meninggalkanku”.

Minggu, 15 April 2019 pukul 05.05 WIB, Allah Sang Sumber hidup telah memanggil Suster M. Sita yang terkasih ke dalam kemuliaan kerajaan-Nya.

Terlahir 05 Agustus 1942 di Sleman, buah cinta Zakaria Ambjah Djajawirija dan Elisabeth Sutimah.

Sr. M. Sita dipermandikan di Medari, 16 Desember 1954. Sakramen penguatan diterimanya di Medari, 21 Agustus 1955. Cecilia Sutirah adalah nama Sr. M. Sita sebelum masuk biara. Pada tanggal 10 Oktober 1965 ia masuk  postulat Suster-Suster Fransiskan St. Georgius Martir di Pringsewu, memulai masa Novisiat 26 Juli 1966, mengikrarkan profesi pertama 17 Desember 1968 dan berprofesi kekal 18 Mei 1976. Dan, merayakan pesta emas 23 November 2017.

Sr. M. Sita mengabdikan diri dalam hidup membiara dengan tugas pelayanan di bidang kesehatan di RSU Pringsewu sebagai Perawat selama 28 tahun, mulai tahun 1968 sampai dengan 1996. Setelah pensiun Sr. M. Sita bertugas di komunitas St. Clara Nyukangharjo di Klinik Panti Rahayu Nyukangharjo, dari tahun 1996 sampai dengan tahun 2003, karena kondisi kesehatan yang mulai menurun ia kembali bertugas di Pringsewu dan tinggal di Komunitas St. Yusuf Pringsewu mulai tahun 2003 sampai ia dipanggil Tuhan.

Pengalaman dicintai oleh Allah membuat Sr. M. Sita tidak takut dan ragu lagi untuk menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Seperti terungkap dari lagu Bahasa Jawa yang ingin ia hayati sampai akhir hidupnya.

 

Lagu itu kurang lebih memiliki arti seperti ini:

O Yesus Yang Mahakasih

Ijinkan aku menyerahkan jiwa raga dengan segalanya,

Sisa hidupku dan kekuatannya sebagai pengganti cintakasihku

O Yesus Yang Mahasuci

Aku sungguh mencintai-Mu

sebab Engkau memanggil aku hamba-Mu

Aku mohon ya Tuhan, hati yang bersih dan murni yang hanya mencari kehendak-Mu

O Jesus yang Mahakasih,

Aku berjanji akan menepati selamanya,

melayani Engkau dalam susah dan sengsara sampai mati tanpa takut asal Tuhan tidak meninggalkanku,

 

Pengalaman suka dan duka dalam hidup setiap hari menjadi bunga dalam biara serta peringatan dan kekuatan dalam menjalani panggilan.

Doa menjadi sumber kekuatan dalam menjalani hidup dan tugas perutusan setiap hari, ketika fisik mulai lemah dan sudah sulit untuk membaca, doa panah membantu Sr. M. Sita untuk selalu mengarahkan diri kepada Allah.

Sejak bulan Oktober 2018 kesehatan Sr. M. Sita semakin menurun dan dirawat di Rumah Sakit Panti Secanti Gisting lalu dirujuk ke Rumah Sakit Emannuel Bandarlampung, melalui pemeriksaan dokter dinyatakan bahwa ginjal tidak berfungsi dengan baik maka sejak bulan November 2018 Sr. M. Sita menjalani Hemodialisa (cuci Darah) di Klinik Lion, Bandarlampung dan di RS Mitra Husada, Pringsewu.

Pada tanggal 03 Maret 2019 Sr. M. Sita ke Jakarta untuk periksa mata dan melanjutkan cuci darah di RS St. Carolus, Jakarta.

Tanggal 28 Maret 2019 kondisinya semakin menurun akhirnya ia dirawat di ruang ICU RS. Carolus Jakarta. Tanggal 29 Maret 2019 menerima sakramen minyak suci dari Rm. Andre Hanafi OFM. Tanggal 14 April 2019 kondisi Sr. M. Sita kembali menurun akhirnya pada pukul 05.05 WIB. Sr. M. Sita dijemput oleh Tuhan Sang pemberi hidup yang melepaskan semua penderitaannya didampingi dengan doa-doa para suster. Kini Tuhan yang baik itu telah mengambil seluruh penderitaannya dan memberinya kebahagiaan yang kekal bersama para kudus dalam kemuliaan kekal. ***

Dok. Prop

[Best_Wordpress_Gallery id=”78″ gal_title=”RIP. Sr. M. Sita”]

Share This Article