Dalam perjalanan panjang usia seniorku ini keindahan panggilan Tuhan tetap menarik bagiku. Keindahan kualami dalam hidup di komunitas, Tuhan yang misteri, membuka diri. Itu dapat kupahami melalui pemimpin komunitas di beberapa tempat yang sudah kutempati.
Masing-masing pemimpin memiliki karakter dan kepribadian tersendiri. Menjadi indah, terungkap melalui persaudaraan dalam mengenal para suster dari berbagai tempat asal.
Keindahan hidup berkomunitas menyatu dalam persaudaraan sejati. Keindahan terasa dalam kebersamaan, dalam olah rohani. Doa terjamin sebagai anggota kongregasi. Begitu pula olah jasmani yang terjadi saat bekerja.
Dengan berjalannya waktu pribadiku menjadi lebih berkembang berkat perjuangan para suster yang hidup dalam persaudaraan di komunitas dan kongregasi FSGM. Aku yang dulu buta, sekarang dapat melihat. Yang dulu bisu, sekarang bisa berbicara. Yang dulu tuli, sekarang dapat mendengar. Yang dulu tidak tahu dan tidak jelas apa itu panggilan, Tuhan sendiri yang membuat aku menjadi tahu dan jelas.
Tuhan yang memilih aku. Aku dipilih, dipanggil-Nya. Panggilan Tuhan yang kujalani sampai saat ini, di usia sekarang ini, mendatangkan rasa bangga sebagai pilihan-Nya. Mengapa? Karena aku diterima apa adanya, dihargai, dan dicintai. Aku berkembang dalam banyak hal sesuai dengan talenta yang Tuhan berikan.
Berbagai hal telah kujumpai dalam perjalanan. Suka dan duka. Jatuh–bangun. Ada rasa bangga karena penyertaan Tuhan. Kasih setia Tuhan memberi semangat untuk tetap menapaki jalan panggilan. Aku berusaha berjalan bersama dalam persaudaraan dan persatuan dengan meneladan semangat Bapa Fransiskus.
Rasa sukacita menyergap saat karya Roh kudus menuntun pemudi-pemudi yang membuka hati bergabung masuk biara FSGM. Karya Roh Kudus ini memacu semangat untuk terus memberi kesaksian hidup, sukacita dan gairah dalam panggilan.
Bersaksi kuungkapkan dengan senyuman dan sapaan yang ramah dan bersaudara. Rasa bangga yang kualami membawa hari- hari menjadi indah dan cepat berganti.Tuhan selalu setia dalam segala waktu. Hal ini membuat hati juga mau setia meniti panggilan-Nya dalam Kongregasi FSGM. Karena Tuhan setia kepadaku, aku pun berusaha berbalas setia.
Sejak awal mau menjadi suster, yakin bahwa Tuhan memanggil masuk ke dalam persaudaraan FSGM. Rahmat Tuhan selalu medampingi dalam perjumpaan dengan orang miskin, di komunitas, di masyarakat, dan dalam hidup menggereja. Kehadiran Tuhan dalam Ekaristi, Adorasi, rekoleksi, retret, pembinaan-pembinaan, menghidupi trikaul dan segalanya yang kualami.
Dalam perjalanan yang panjang ada tantangan yang kujumpai dalam menjalani panggilan sebagai suster FSGM yaitu:
- menyimpang dari jalan panggilan,
- Mencari enak (kurang mati raga dan kurang disiplin diri dalam banyak hal)
- Melanggar trikaul,
- Tidak setia dalam menghidupi doa dan kebersamaan persaudaraan
- Kurang rendah hati.
- Kurang bersyukur dalam keberhasilan dan kegagalan.
- Kurang menyadari adanya kehendak Tuhan yang lebih baik.
- Bersikap egois dan sombong.
- Kesaksian palsu tidak sesuai visi misi kongregasi.
- Kurang menjiwai hidup sebagai nabi, raja dan rasul Yesus.
- Tidak setia pada tugas yang dipercayakan oleh kongregasi
Seiring dengan tantangan yang ada, muncul keyakinan bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluar untuk mengatasinya. Apa yang tidak mungkin, bersama Tuhan dan di dalam Tuhan segala sesuatu menjadi mungkin. Lewat bina lanjut. Bina diri. Doa. Adorasi. Mengolah cacat pusaka, Aku berjuang dan menemukan hasil untuk menjadi lebih baik.
Setelah mengalami penyimpangan, aku dibentuk dan belajar menjadi rendah hati. Waspada terhadap dunia yang modern ini dan tetap menghidupi panggilan melalui Kongregasi FSGM.
Keingan kuat untuk menelada semangat Bapa Fransiskus yang dicengkam oleh Tuhan. Semoga Tuhan senantiasa menyertaiku dalam sukacita, menikmati panggilan suci ini. ***