Terbang Tinggi Ibarat Layang-Layang

Redaksi
2 Min Read

Suasana khidmat dan penuh syukur mewarnai perayaan Ekaristi dalam rangka prasetya kekal ke-5 suster, yang bersamaan dengan perayaan syukur ke-8 suster atas 25 tahun hidup membiara dan 50 tahun profesi kebiaraan oleh 2 suster. Perayaan ekaristi ini berlangsung selama 3 jam, dan dihadiri oleh ratusan umat yang berasal dari berbagai daerah khususnya sanak-saudara para suster yang berkaul kekal dan pesta emas. Mgr. Yohanes Harun Yuwono menjadi konselebran utama dalam perayaan syukur ini dan didampingi oleh sekitar 60-an imam dari berbagai keuskupan dan kongregasi.
Kisah film “Tom and Jerry” menjadi kisah yang inspiratif bagi Mgr. Yohanes Harun Yuwono untuk memulai kotbahnya. “Untuk bisa makan, kita harus minimal mengetahui dua bahasa”, demikian kesimpulan salah satu cerita Tom and Jerry. Mengetahui 2 bahasa berarti sebagai orang yang terpanggil harus mampu untuk berefleksi mendalam tentang tugasnya sebagai abdi Kristus dan berani keluar dari zona aman untuk menjumpai dunia yang mungkin sudah asing bagi kehidupan religius.
Berjumpa dengan dunia luar membutuhkan keterbukaan hati dan mental sehingga siap sedia bergaul dengan orang lain. Lebih lanjut Mgr. Yohanes Harun Yuwono mengungkapkan bahwa kemauan dan kerja keras untuk menghadirkan cita-cita masa depan terjadi saat ini. Hal ini selaras dengan eksistensi religius sebagai tanda eskatologis. Menyatakan kepada dunia bahwa pengharapan dan tautan hati yang terakhir ada dalam Yesus.
Tantangan dunia zaman ini bukan menghanyutkan kita para religius, tetapi sebagai kesempatan untuk mencari kreativitas baru dalam pelayanan. Sehingga karya-karya pelayanan para religius selalu mampu menanggapi keprihatinan manusia pada zamannya. Memberikan diri dengan setia dan kreatif membaca tanda-tanda zaman sehingga hidup kita sebagai orang terpanggil menjadi tanda kerahiman Allah yang nyata untuk dunia.
“Jadilah seperti layang-layang yang semakin terbang jauh ke angkasa karena ada angin. Semakin kuat angin menerpa, maka semakin tinggi pula ia akan terbang” demikian Uskup Tanjung Karang ini mengakhiri kotbahnya. Rasa syukur yang mendalam ini diakhiri dengan ramah-tamah di kompleks komunitas pusat, Susteran St. Yusup, dan Novisiat St. Maria, Pringsewu***

[Best_Wordpress_Gallery id=”4″ gal_title=”KaulKekal2016″]

Share This Article