WAWANHATI IMAGINER DENGAN FRANSISKUS ASSISI

Redaksi
7 Min Read

Catatan Pembuka: Judul ungkapan diri ini, yakni: Wawanhati Imaginer dengan Fransiskus Assisi, benar-benar imaginer, “isapan jempol tangan”. Kalau dirasa tindak imaginer ini lancang dan layak dibuang, saya sendiri bisa membakarnya sampai tak berbekas. Tetapi naga-naganya terlalu sayang untuk dibuang! Jangan-jangan seperti sampah yang bisa menjadi berkah, demikian pula imaginasi ini merupakan salah satu jalan tol menuju paradiso, kayak yang dipikirkan Beato Carlo Acurtis tentang Ekaristi. Bukankah Luise Elisabeth Glück yang menyabet Hadiah Nobel Bidang Sastra  tahun 2020 membiarkan imaginasi yang liar berkelana tanpa henti? Maka, saya akan terus dengan kondisi apa pun, mengingat saya sudah terlanjur menyiapkannya, bahkan secara tertulis pula!

Saya: Selamat pagi, Bapa Fransiskus. Wah, di sini nyaman bangets: Semua sehat, tidak ada ancaman pandemi dan Covid-19. Tapi ngomong-ngomong soal ini, Apa pandangan Bapak Fransiskus tentang Ensiklik “Fratelli Tutti” yang baru saja dipublikasikan, 3 Oktober 2020 yang lalu?

Fransiskus: Saya belum membacanya. Sebab di tempat saya berada, tidak ada sambungan internet, sehingga sinyal wifi tidak ada. Tidak ada Gojek yang dapat mengantar bahan cetakan itu ke mari. Meski begitu, saya masih ingat apa yang saya tulis, yang kemudian dipenggal dan penggalan itu dari Admonitiones (Petuah VI), yang dijadikan judul ensiklik Bapa Suci, Fransiskus dari Roma.

Saya: Tetapi apakah dalam benak Bapak Fransiskus kata-kata “Fratelli Tutti” yang dijadikan judul ensiklik itu merupakan jiwa Petuah VI?

Fransiskus: Tentu saja bukan fratelli tutti yang merupakan nyawa Petuah VI. Coba Saudara dengarkan Petuah 6 ini:

Marilah, saudara sekalian, kita memandang Gembala Baik yang telah menanggung sengsara salib untuk menyelamatkan domba-domba-Nya. Domba-domba Tuhan telah mengikuti Dia dalam kemalangan dan pengejaran, dalam penistaan dan kelaparan, dalam sakit dan cobaan dan lain sebagainya; dan karena semuanya itu mereka telah menerima dari Tuhan kehidupan abadi. Oleh sebab itu memalukan sekali bagi kita, hamba-hamba Allah, karena para kudus yang telah melakukan karya-karya itu, sedangkan kita, hanya dengan menceritakannya, ingin mendapat kemuliaan dan hormat.”

Nah, dalam Petuah VI kepedulian utama adalah bagaimana kita perlu mencontoh atau meneladan Sang Gembala Baik, yang sudah diikuti oleh domba-domba-Nya dalam jalan salib dan kesengsaraan dan mereka menerima kehidupan abadi.

Jadi, hal yang terutama bukan fratelli tutti. Kalau mau membahas fratelli tutti para saudara perlu mencari dan menemukan di semua tulisan yang diakukan oleh para saudara merupakan “tulisan tangan saya”, padahal jujur tangan saya tidak pernah menulis, saya tidak terpelajar, saya tidak mewariskan kepada saudara-saudara tulisan yang merupakan buah pena.

Saya: Kalau memang inti dan nyawa Petuah VI bukan “fratelli tutti” mengapa ensiklik memakai kata-kata itu sebagai judul utama? Bukankah lebih baik Paus Fransiskus bertanya kepada bapak sendiri sebagai “inspirator utama” Petuah dan mencari “fratelli tutti” di sumber lain, misalnya bapak berbicara tentang persaudaraan universal. Tetapi soal yang mendasar adalah apakah karya tentang persaudaraan universal itu ada dalam ……..?

Fransiskus: Saya membayangkan, bahwa para pembisik di sekitar Bapa Suci (Paus Fransiskus) dan para cerdik pandai kefransiskanan dimintai informasi tentang gagasan, pemikiran, inti jiwa dari seluruh rancangan ensiklik. Kalau kerangka atau rancangan serta gagasan ensiklik itu demikian, lalu kira-kira judul apa yang tetap, yang merangkum dan menyaripatikan seluruh ensiklik. Jadi, contoh-contoh konkret dipaparkan, fakta-fakta dibeberkan, hipotesis dibedah, sampai pada teori. Atau penggambaran yang umum dan luas untuk akhirnya menyempit pada kesimpulan khusus. Bisa jadi pola yang induktif seperti itu yang dipakai dalam pemberian judul ensiklik.

Sebab kalau memakai cara kerja yang berbeda, yakni deduktif, ensiklik perlu menjalaskan konsep, arti, latar belakang, makna dari ungkapan fratelli tutti. Tetapi menurut kata orang, ensiklik melihat awan gelap yang meliputi dunia (yang bagi sebagian orang kiranya menakutkan, tetapi sebagian lagi ini pertanda baik, yakni terbitnya harapan: akan ada hujan, akan ada air melimpah, karena kita mendapat air dari awan yang disambung dengan hujan).

Konon, ada orang asing di jalan. Bukankah kita semua orang asing di planet ini, dan kita adalah homo viator, manusia yang sedang dalam perjalanan menuju ke tempat akhir yang abadi?

Kata orang di bawah judul fratelli tutti, juga dibicarakan tentang visi dari dunia yang terluka, hati yang terbuka kepada dunia, politik yang lebih baik, dialog dan persahabatan, perjumpaan yang dibarui, agama dan persaudaraan. Hebat sekali. Sebab bukan pertama-tama kata fratelli tutti yang diinspirasikan oleh Petuah 6, melainkan kepedulian, keterlibatan, empati, keberpihakan, belarasa, dan kasih yang tak bertepi yang dapat diungkapkan dan diwujudkan sepenuhnya serta senyata-nyatanya.

Saya: Terima kasih, Bapa Fransiskus, bapa telah sangat berjasa bagi Gereja bahkan dunia, karena telah mengingatkan, mengarahkan, dan menuntun seluruh persaudaraan semesta dalam persahabatan yang saling merasakan solidaritas.

Fransiskus: Terpujilah Tuhan, dan syukur kepada Allah. Hanya Dia sajalah yang telah membuat segalanya kemungkinan itu berubah menjadi kenyataan, terutama bagi semua yang diciptakan-Nya dan dikasihi-Nya, karena Dia adalah kasih. (bdk. 1 Yohanes 4:16).

Oleh sebab itu, saya sudah mengingatkan sejak dini (awal), agar kalian melakukan demitologisasi atas diri saya, seorang manusia biasa dari abad ke-13 di Eropa. Begitu banyak saudara yang menjadikan saya tokoh mitos, yang tak tersentuh, sakral, dan suci. Dengan demitologisasi cara berpikir kalian tentang saya, cara memandang dan melihat kalian tentang saya harus diubah.

Memang benar, tidak kurang jumlah para saudara yang tidak memiliki kepedulian apa-apa sama sekali, kendati masih mengacung-acungkan bendera kefransiskanan. Hal ini seperti yang saya singgung dan maksudkan dalam Petuah VI: 3.

Untuk semua inilah saya masih berdoa kepada Allah di surga mulia. Tugas saya sudah selesai. Saya sudah tidak dapat diubah oleh siapa pun. Hal yang dapat diubah adalah tafsiran orang tentang diri saya. Ini bisa dan harus diubah bila memang bermanfaat untuk kehidupan.

Saya: Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih. Pax et bonum.***

A.Eddy Kristiyanto OFM

Share This Article